AS dan Iran Gagal Mencapai Kesepakatan, Ratusan Kapal Tanker Masih Tertahan di Selat Hormuz
SUARA NEGERI ■ ISLAMABAD — Amerika Serikat dan Iran gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang, meskipun telah menggelar perundingan maraton yang berakhir pada Minggu (13/4/2026) di ibu kota Pakistan, Islamabad. Kegagalan ini mengancam keberlangsungan gencatan senjata yang masih rapuh.
Disitat laman Reuters, kedua pihak saling menyalahkan atas kegagalan negosiasi selama 21 jam tersebut, yang bertujuan mengakhiri konflik yang dimulai lebih dari enam pekan lalu.
"Berita buruknya adalah kita belum mencapai kesepakatan, dan menurut saya ini lebih buruk bagi Iran dibandingkan bagi Amerika Serikat," ujar Wakil Presiden JD Vance, yang memimpin delegasi AS.
"Kami (akan) kembali ke Amerika Serikat tanpa kesepakatan. Kami telah menjelaskan dengan sangat jelas apa saja garis merah kami," imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf, yang memimpin delegasi bersama Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi, menyalahkan AS karena gagal membangun kepercayaan Iran, meskipun pihaknya telah menawarkan “inisiatif yang berorientasi ke depan”.
"AS telah memahami logika dan prinsip Iran, dan kini saatnya mereka memutuskan apakah dapat memperoleh kepercayaan kami atau tidak," kata Qalibaf melalui platform X.
Sumber Pakistan menyebutkan bahwa kedua delegasi kini telah meninggalkan Islamabad untuk kembali ke negara masing-masing. Perundingan ini merupakan pertemuan langsung pertama antara AS dan Iran dalam lebih dari satu dekade, serta pembicaraan tingkat tertinggi sejak Revolusi Islam 1979.
Vance mengatakan Iran memilih untuk tidak menerima syarat dari AS, termasuk komitmen untuk tidak membangun senjata nuklir. Iran menuding poin nuklir adalah tujuan utama dari perundingan.
"Kami perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan mencari senjata nuklir dan tidak akan mengembangkan kemampuan yang memungkinkan mereka dengan cepat mencapainya, itu adalah tujuan utama Presiden Amerika Serikat, dan itulah yang kami upayakan melalui negosiasi ini," kata Vance.
Menanggapi hal itu, Iran menyebut tuntutan AS yang “berlebihan” menjadi penghambat tercapainya kesepakatan. Media Iran lainnya melaporkan bahwa sebenarnya ada kesepakatan dalam beberapa isu, namun Selat Hormuz dan program nuklir Iran menjadi titik perbedaan utama.
Nasib Selat Hormuz
Dalam konferensi pers singkatnya, Vance tidak menyinggung pembukaan kembali Selat Hormuz. Vance mengatakan ia telah berbicara dengan Presiden Donald Trump hingga belasan kali selama perundingan berlangsung. Namun, Trump pada Sabtu menyatakan bahwa kesepakatan tidak sepenuhnya diperlukan.
"Kami sedang bernegosiasi. Ada atau tidaknya kesepakatan tidak terlalu penting bagi saya, karena kami sudah menang," klaim Trump.
Di tengah perundingan, sekutu AS, Israel, tetap melanjutkan serangan terhadap militan Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon, dan menegaskan bahwa konflik tersebut tidak termasuk dalam gencatan senjata AS-Iran. Sementara itu, Iran menuntut agar pertempuran di Lebanon dihentikan.
Militer Israel menyatakan telah menyerang peluncur roket Hizbullah hingga Minggu dini hari. Asap hitam terlihat membumbung di wilayah selatan Beirut. Di wilayah perbatasan Israel, sirene peringatan serangan udara berbunyi, menandakan adanya roket yang ditembakkan dari Lebanon.
Teheran menuntut kendali atas Selat Hormuz, pembayaran reparasi perang, serta gencatan senjata di seluruh kawasan, termasuk Lebanon. Selain itu, Iran juga meminta pencairan asetnya yang dibekukan di luar negeri. Iran juga ingin memungut biaya transit bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Meski terdapat perbedaan dalam perundingan di Islamabad, data pelayaran menunjukkan tiga kapal tanker raksasa bermuatan penuh minyak berhasil melintasi Selat Hormuz pada Sabtu. Kapal diduga menjadi kapal pertama yang keluar dari Teluk sejak kesepakatan gencatan senjata.
Namun, ratusan kapal tanker masih tertahan di kawasan Teluk, menunggu kesempatan keluar selama periode gencatan senjata dua pekan. Tujuan yang disampaikan Trump mengalami pergeseran, namun secara minimal ia menginginkan kebebasan pelayaran global di Selat Hormuz serta pelemahan program pengayaan nuklir Iran agar tidak mampu memproduksi bom atom. Teheran selama ini membantah memiliki ambisi untuk mengembangkan senjata nuklir. (Dea)
