Rupiah Sentuh Rp16.500, Adolf Hutabarat: Jangan Sampai Pasar Kehilangan Percaya
SUARA NEGERI | JAKARTA — Rupiah sempat sentuh Rp16.500 per dolar AS pekan lalu. Grup WA alumni wartawan ekonomi rame lagi. Banyak yang nanya: "Ini 1998 jilid II bukan?"
Saya ketawa kecil. Tahun 1998 saya ada di lantai bursa, lihat dolar tembus Rp16.800 dari Rp2.400 cuma dalam setahun. Sekarang angkanya mirip, tapi rasanya beda jauh.
Sebagai orang yang 15 tahun di Harian Bisnis Indonesia, ijinkan saya share 3 perbedaan paling kasat mata antara 1998 dan 2026. Bukan kata pengamat, tapi apa yang saya lihat sendiri di lapangan.
Era Tahun 1998: Bank Tumbang. 2026: Bank Masih Jaga Gawang
Tahun 1998, jam 10 pagi saya di Bank Indonesia. Jam 11 dapat kabar 16 bank dilikuidasi. [CERITA PRIBADI: misal, "Saya lihat sendiri nasabah BCA Panik antri di Jalan Sudirman. BLBI jadi hantu. Orang takut naruh duit di bank.
Sekarang, Mei 2026, saya telpon teman lama yang sekarang jadi direktur di bank BUKU 4. Katanya, "LDR masih 83%, NPL 2.4%. Kita malah disuruh nyalurin kredit."
OJK dan LPS sekarang galak. Pengawasan ketat. Jadi kalau Rupiah goyang, bukan karena bank mau kolaps.
- 1998: Utang Swasta Ugal-ugalan. 2026: Masalahnya di "Kredibilitas"*
"Saya pernah wawancara bos grup T yang utangnya dolar tapi income rupiah..."]. Begitu dolar naik, langsung bangkrut. Utang luar negeri swasta numpuk tanpa lindung nilai.
Sekarang, data BI bilang utang luar negeri swasta lebih terjaga. Masalahnya bukan di angka. Persis kata M Chatib Basri: "Risiko terbesar bukan pada angka, melainkan kredibilitas".
Kalau dulu pasar panik karena perusahaan nggak bisa bayar utang, sekarang pasar panik kalau ada kebijakan fiskal yang tiba-tiba. [CONTOH: kaitkan dengan isu APBN/MBG yang lagi rame]. Bedanya tipis, tapi dampaknya sama: Rupiah bisa tertekan.
Era 1998: Nggak Ada Instagram. 2026: Panik Bisa Viral 5 Menit
*Tahun 1998, untuk mengetahui dolar naik, saya harus tunggu koran besok atau nonton TVRI jam 9 malam. Kepanikan merambat pelan.
*Kemarin, Rupiah tembus Rp16.500 jam 10.05. Jam 10.10 udah masuk TikTok, judulnya "KIAMAT 1998 TERULANG?". Jam 10.30 ibu-ibu di grup komplek saya udah nanya "Borong dolar nggak?".
Kecepatan panik ini yang beda. Dulu pemerintah punya waktu 1x24 jam untuk klarifikasi. Sekarang cuma punya 1 jam sebelum narasi liar kebentuk.
*Jadi, apakah ini 1998 jilid II...*
Jawaban saya: Tidak. Fundamental, instrumen, dan pengalaman kita jauh lebih siap.
Tapi ada satu persamaan yang bikin merinding: di 1998 dan sekarang, "ruang untuk salah semakin sempit". Salah ngomong, salah kebijakan, pasar langsung hukum.
Dahulu, kita kekurangan instrumen. Sekarang kita nggak kekurangan instrumen. Tinggal satu yang dijaga: jangan sampai pasar kehilangan percaya.
Bila, kredibilitas jebol, angka sebagus apapun nggak nolong. Saya sudah lihat itu tahun 1998.
Oleh: Adolf Hutabarat: penulis Eks Wartawan Harian Bisnis Indonesia 1985-2000 dan Dosen FEB- UKI.
