Dari Pelaminan ke Kehidupan Nyata: Kisah di Balik Mahar Seperangkat Alat Sholat
SUARA NEGERI | JAKARTA — Saat akad nikah berlangsung, seperangkat alat sholat terbungkus rapi di atas meja penghulu. Mahar itu menjadi simbol harapan akan rumah tangga yang sakinah dan penuh keberkahan. Namun bertahun-tahun kemudian, tak sedikit pasangan mengaku alat sholat tersebut hanya tersimpan di lemari, sementara kesibukan dan rutinitas perlahan menjauhkan mereka dari kebiasaan ibadah yang dahulu menjadi simbol dalam pernikahan mereka.
Jika seperangkat alat sholat dipilih sebagai simbol perjalanan rumah tangga, apakah makna sebenarnya terletak pada barang yang diberikan, atau pada komitmen untuk menghidupkan nilai-nilai yang diwakilinya?
Menurut saya, itu persis seperti efek yang sering muncul dalam kisah-kisah Abu Nawas, sederhana di permukaan, tetapi menyimpan pertanyaan yang lebih dalam tentang kehidupan manusia.
Bayangkan saja, Saat akad, semua orang terharu melihat mahar seperangkat alat sholat. Pengantin mengucapkan janji suci. Keluarga berharap rumah tangga penuh keberkahan.
Lalu 5, 10, atau 20 tahun kemudian, bagaimana nasib simbol itu? Masih digunakan? Tersimpan di lemari? Menjadi kenangan? Atau justru menjadi pengingat yang membuat pasangan kembali mendekat kepada agama?
Nah, di situlah kisah manusianya. "Mahar yang Menunggu untuk Digunakan"
Sebagai jurnalis, sering kali cerita terbaik bukan tentang peristiwa besar, melainkan tentang benda-benda sederhana yang menyimpan perjalanan hidup manusia. Seperangkat alat sholat di meja akad adalah salah satunya.
Mengapa memilih seperangkat alat sholat sebagai mahar?
Apa makna simboliknya?
Kenapa setelah menikah justru tidak menjalankan sholat?
Apakah ini fenomena yang banyak terjadi di masyarakat?
Dari situ kita bisa mendapatkan data dan cerita yang jauh lebih kuat daripada sekadar menyoroti satu pasangan. Bahkan bisa menjadi menyentuh realitas yang banyak orang lihat, tetapi jarang dibahas secara terbuka.
Daripada fokus pada satu pasangan yang bisa terkesan menghakimi, kita bisa mengangkat fenomenanya secara lebih luas.
Mengapa Seperangkat Alat Sholat Menjadi Mahar Favorit di Indonesia?
Apakah pemilihan mahar itu berpengaruh terhadap kehidupan rumah tangga dan ibadah pasangan setelah menikah? Kisah pasangan yang tetap menjaga sholat berjamaah setelah menikah? atau kisah pasangan yang mengaku kesulitan menjaga ibadah setelah memasuki kehidupan rumah tangga?
Pertanyaan ini menarik karena, Ada unsur religius, Ada unsur sosial, Dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan Bisa menghasilkan data sendiri melalui survei sederhana kepada pasangan muda.
Sebagai jurnalis, justru pertanyaan seperti itu sering menjadi awal lahirnya artikel yang kuat. Banyak orang pernah menghadiri pernikahan dengan mahar seperangkat alat sholat, tetapi jarang ada yang bertanya apakah simbol itu benar-benar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari setelah akad.
Bro, saya justru melihat ini feature sosial-religius yang bisa sangat kuat kalau ditulis dengan gaya kekinian, kata seorang kawan.
Menariknya, ternyata ada penelitian terbaru yang menemukan adanya "jarak" antara makna simbolis mahar seperangkat alat sholat dengan praktik ibadah sehari-hari pasangan setelah menikah. Banyak pasangan memaknai mahar itu sebagai simbol religius, tetapi tidak semuanya berlanjut menjadi kebiasaan ibadah yang konsisten.
Saat akad nikah berlangsung, kalimat "dibayar tunai dengan seperangkat alat sholat" kerap disambut senyum haru keluarga dan tamu undangan. Mahar itu menjadi simbol harapan agar rumah tangga dibangun di atas fondasi agama.
Namun di balik romantisme akad nikah tersebut, muncul pertanyaan yang jarang dibahas, apakah seperangkat alat sholat yang diucapkan saat ijab kabul benar-benar berlanjut menjadi kebiasaan sholat dalam kehidupan sehari-hari pasangan suami istri?
Seperangkat alat sholat mungkin menjadi salah satu mahar paling populer dalam pernikahan muslim Indonesia. Hampir setiap akhir pekan, kalimat itu terdengar dalam prosesi akad nikah di berbagai daerah. Namun di tengah tingginya penggunaan mahar bernuansa religius tersebut, fenomena pasangan yang jarang menjalankan sholat setelah menikah juga bukan rahasia di tengah masyarakat.
Kalimat itu hampir selalu terdengar dalam prosesi akad nikah umat Islam di Indonesia. Mahar yang sarat simbol keagamaan tersebut diyakini sebagai bentuk komitmen membangun keluarga yang religius. Namun sejumlah pengamat menilai, simbol keagamaan dalam pernikahan belum tentu berbanding lurus dengan praktik ibadah pasangan setelah memasuki kehidupan rumah tangga.
Karena itu mengundang rasa penasaran, tidak menghakimi, dan sesuai dengan temuan sejumlah kajian yang mempertanyakan apakah mahar tersebut benar-benar menjadi simbol komitmen spiritual atau lebih banyak dipertahankan sebagai tradisi budaya pernikahan.
Tidak Ada Catatan Pasti Kapan Tradisi Itu Dimulai
Sampai sekarang, saya belum menemukan sumber akademik yang bisa memastikan, Tradisi mahar seperangkat alat sholat pertama kali muncul pada tahun sekian.
Yang ditemukan justru bahwa tradisi tersebut merupakan hasil akulturasi Islam dengan budaya lokal Indonesia, terutama di masyarakat Jawa dan beberapa daerah Muslim lainnya.
Dalam literatur fikih klasik, tidak ada ketentuan bahwa mahar harus berupa seperangkat alat sholat. Mahar bisa berupa uang, emas, tanah, bahkan hafalan Al-Qur'an.
Kemungkinan Besar Berkembang di Indonesia
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa mahar seperangkat alat sholat telah menjadi budaya yang "mengakar" dalam pernikahan Muslim Indonesia, tetapi lebih merupakan tradisi sosial daripada ketentuan agama.
Menariknya, jika kita melihat praktik pernikahan seperti di Saudi Arabia, Egypt, Pakistan, atau Turkey misalnya, mahar seperangkat alat sholat tidak sepopuler di Indonesia. Di sana lebih umum berupa uang, emas, properti, atau benda bernilai ekonomi.
Artinya, fenomena "mas kawin seperangkat alat sholat" kemungkinan besar merupakan ciri khas Islam Nusantara yang berkembang dari tradisi masyarakat Indonesia sendiri.
Tradisi itu begitu lazim hingga dianggap bagian tak terpisahkan dari pernikahan. Namun ketika ditelusuri lebih jauh, tidak banyak yang mengetahui sejak kapan kebiasaan tersebut mulai berkembang dan mengapa justru menjadi sangat populer di Indonesia.
Lalu masuk ke pertanyaan utama, Mengapa masyarakat Indonesia lebih memilih seperangkat alat sholat sebagai mahar dibanding emas atau uang yang secara ekonomi lebih bernilai?
Dugaan Historis yang Layak Ditelusuri, Kalau Anda serius ingin membuat feature mendalam terkait hal ini, kita perlu gali ke Pengurus KUA senior yang sudah bertugas 20–30 tahun. Sejarawan Islam Indonesia. Peneliti budaya Jawa dan Akademisi dari jurusan antropologi budaya.
Karena ada hipotesis yang menarik, dahulu masyarakat pedesaan tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk memberikan emas atau mahar mahal, sehingga seperangkat alat sholat dipilih karena murah, mudah diperoleh, bernilai religius, dan tidak memberatkan calon pengantin pria.
Hipotesis ini bahkan sejalan dengan pendapat banyak masyarakat yang menganggap seperangkat alat sholat sebagai simbol religius yang sederhana dan tidak memberatkan. (H. Thoriq Aziz)
