Kepala BGN Dicopot Prabowo, Mampukah Nanik S Deyang Penuhi Harapan Publik?
SUARA NEGERI | JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto resmi menunjuk Nanik S. Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru menggantikan Dadan Hindayana.
Hasil wawancara lapangan menunjukkan banyak narasumber mendukung pencopotan dan memuji langkah tegas Prabowo, itu menarik karena berarti ada resonansi opini offline, bukan cuma gaduh di media sosial.
"Itu bisa menjadi temuan jurnalistik yang kuat, tetapi konteksnya tetap perlu dijelaskan. Pencopotan Kepala BGN memang diumumkan pemerintah pada 2 Juni 2026 sebagai hasil evaluasi kinerja sekitar 1,5 tahun," begitu respon Ketua Umum Perwari, Gusti Hadi Suprapto, pada Rabu (3/6).
Menurutnya, kalau publik memuji langkah Prabowo, kemungkinan ada beberapa alasan psikologis dan politik yang berjalan bersamaan. Publik suka pemimpin yang terlihat tegas dan cepat bertindak.
"Dalam politik Indonesia, ada kecenderungan publik mengapresiasi gaya kepemimpinan yang terlihat “langsung eksekusi”. Saat pejabat yang banyak dikritik diganti, sebagian orang membaca itu sebagai pesan, “Presiden tidak main-main.” Apalagi pemerintah menyebut pergantian ini sebagai hasil monitoring dan evaluasi terhadap BGN," imbuhnya.
Namun, lanjut Gusti, kalau sebuah program besar sering disorot, masyarakat biasanya ingin melihat konsekuensi atau evaluasi nyata. BGN punya posisi strategis karena terkait program makan bergizi gratis, sehingga pergantian pimpinan bisa dipersepsikan sebagai koreksi atau pembenahan.
Kadang yang diapresiasi bukan hanya orangnya dicopot, tapi pesan politiknya: “keluhan masyarakat masuk.” Ini sering meningkatkan persepsi bahwa pemimpin responsif.
Di sisi lain, menurut Pakar IT ini, ada hal yang menarik untuk disimak lebih lanjut. Apakah pujian netizen itu karena substansi kebijakan, atau karena simbol ketegasan?
"Karena publik sering kali puas pada momen pencopotan, tetapi setelah itu muncul pertanyaan lanjutan, apakah layanan membaik, program lebih rapi, distribusi lebih tepat sasaran, dan masalah lama selesai?," ulasnya.
Yang perlu dilihat bukan sekadar siapa penggantinya, tetapi apakah dia bisa menghasilkan perbaikan yang terlihat cepat di lapangan.
"Tapi kalau kita baca fenomena publik secara realistis, ada beberapa skenario. Harapan publik bisa terpenuhi kalau ada “hasil cepat”. Karena pencopotan ini dibaca sebagai langkah tegas, publik kemungkinan menunggu bukti konkret dalam waktu dekat, misalnya, distribusi program makan bergizi lebih rapi, pengawasan kualitas makanan lebih ketat, respons cepat terhadap masalah lapangan, dan komunikasi publik lebih jelas," ungkapnya.
Menurut Gusti, tantangan terbesar justru ekspektasi yang terlalu tinggi. Ketika pencopotan dipuji, otomatis muncul harapan, yang baru harus lebih bagus. Kalau masalah lama tetap muncul, publik biasanya cepat berubah dari optimistis menjadi kecewa. Ini pola yang sering terjadi di politik Indonesia.
Selain itu, ada faktor rekam jejak dan persepsi publik. Nanik diketahui punya latar belakang media/jurnalistik dan sebelumnya berada di internal BGN, bukan orang yang benar-benar datang dari luar sistem. Itu bisa dibaca dua arah.
"Sisi positifnya, dia sudah memahami masalah internal dan bisa bergerak cepat, sedangkan sisi negatifnya, sebagian orang bisa bertanya, “kalau sebelumnya sudah di dalam, kenapa masalah terjadi?," ujarnya. (Sri Wulandari)
