Otak Sedang Berada dalam Mode Otomatis: Mengapa Tiba-Tiba Kita Mengingat Seseorang?


Oleh: Dr. Sakky Siregar

Pernahkah Anda sedang sibuk mengerjakan sesuatu, membaca berita, menulis artikel, atau bahkan sedang berada di tengah pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi, tetapi tiba-tiba teringat seseorang dari masa lalu?

Anehnya, orang tersebut mungkin sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang sedang dilakukan.

Kita bahkan tidak sedang berniat mengingatnya. Namun, tiba-tiba wajahnya muncul di kepala. Bisa mantan pasangan, teman lama, anggota keluarga, seseorang yang pernah sangat dekat, atau bahkan orang yang sudah bertahun-tahun tidak kita pikirkan.

Fenomena seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang aneh.

Salah satu kemungkinan penjelasannya adalah otak sedang berpindah ke kondisi yang lebih otomatis atau mengalami apa yang dalam psikologi sering disebut sebagai mind-wandering, yakni ketika perhatian secara spontan bergeser dari aktivitas yang sedang dilakukan menuju pikiran lain.

Ketika tubuh bekerja, pikiran bisa berjalan ke tempat lain

Manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk melakukan pekerjaan tertentu tanpa harus mengerahkan seluruh kapasitas perhatian secara sadar.

Ketika seseorang sudah terbiasa mengetik, membaca, mengedit tulisan, mengemudi di rute yang familiar, atau melakukan pekerjaan rutin, sebagian proses tersebut dapat berlangsung dengan lebih otomatis.

Pada saat perhatian terhadap tugas utama sedikit berkurang, pikiran dapat mulai menjelajah.

Di sinilah kenangan lama bisa muncul.

Pikiran dapat berpindah dari kalimat yang sedang kita tulis menuju sebuah pengalaman masa lalu hanya dalam hitungan detik.

Menariknya, perpindahan tersebut tidak selalu membutuhkan pemicu yang jelas.

Sebuah kata, suasana ruangan, suara, aroma, tanggal tertentu, atau bahkan perasaan yang sedang kita alami dapat menjadi penghubung menuju memori lain.

Karena itu, seseorang bisa tiba-tiba mengingat mantan pasangan ketika sedang bekerja, meskipun tidak ada pembicaraan mengenai hubungan masa lalu tersebut.

Otak menyimpan kenangan berdasarkan hubungan

Memori manusia bukan seperti lemari arsip yang menyimpan setiap pengalaman dalam kotak terpisah.

Kenangan saling terhubung.

Satu pengalaman dapat memiliki kaitan dengan suara, tempat, wajah, emosi, percakapan, aroma, bahkan sensasi tubuh tertentu.

Karena itu, pemicu yang sangat kecil dapat membuka jalan menuju kenangan yang jauh lebih besar.

Misalnya, seseorang mendengar sebuah lagu yang pernah sering diputar ketika masih bersama pasangannya. Lagu tersebut kemudian dapat memunculkan kembali wajah, percakapan, atau suasana yang berkaitan dengan hubungan tersebut.

Hal serupa dapat terjadi ketika seseorang membaca sebuah kalimat tertentu.

Kadang bukan isi kalimatnya yang penting, melainkan kata atau emosi yang secara tidak sadar memiliki hubungan dengan pengalaman sebelumnya.

Kenapa justru kenangan lama yang muncul?

Kenangan yang memiliki muatan emosional cenderung meninggalkan jejak yang lebih kuat.

Itulah sebabnya kita mungkin lupa apa yang dilakukan beberapa hari lalu, tetapi masih dapat mengingat percakapan, tempat, atau ekspresi seseorang yang terjadi bertahun-tahun sebelumnya.

Kenangan emosional tidak selalu berarti kenangan yang menyenangkan.

Pengalaman yang membuat seseorang bahagia, sedih, marah, kecewa, kehilangan, atau merasa sangat dekat dengan orang lain sama-sama dapat menjadi bagian dari memori yang kuat.

Maka, ketika seseorang tiba-tiba mengingat mantan pasangan, hal itu tidak otomatis berarti ia masih mencintai atau ingin kembali.

Bisa saja otak sedang mengakses sebuah pengalaman yang memiliki nilai emosional besar dalam perjalanan hidupnya.

Mengingat bukan berarti ingin kembali

Ini bagian yang sering disalahartikan.

Munculnya seseorang dalam pikiran tidak selalu berarti kita menginginkan orang tersebut kembali ke kehidupan kita.

Otak dapat mengingat seseorang tanpa adanya keinginan untuk mengulangi masa lalu.

Kita bisa mengingat seseorang karena pernah hidup bersamanya selama bertahun-tahun. Kita bisa mengingat percakapan lama karena pengalaman tersebut pernah membentuk cara kita melihat kehidupan.

Bahkan, seseorang yang sudah merasa baik-baik saja setelah sebuah hubungan berakhir tetap dapat sesekali mengingat mantan pasangannya.

Itu bukan kegagalan untuk move on.

Itu adalah bagian dari cara kerja memori manusia.

Ketika pikiran mengembara, kita justru bisa menemukan sesuatu

Mind-wandering sering dipandang sebagai gangguan karena membuat konsentrasi terpecah.

Namun, pikiran yang mengembara tidak selalu buruk.

Dalam kondisi tertentu, berpindah sejenak dari pekerjaan dapat memberi ruang bagi otak untuk menghubungkan berbagai informasi, memunculkan ide, melakukan refleksi, atau melihat sebuah persoalan dari sudut pandang berbeda.

Tidak sedikit ide tulisan, solusi pekerjaan, atau keputusan penting muncul justru ketika seseorang sedang tidak secara aktif memikirkan masalah tersebut.

Namun, tentu ada perbedaan antara pikiran yang sesekali mengembara dan kondisi ketika seseorang terus-menerus kehilangan fokus hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

Jika pikiran yang muncul disertai kecemasan berat, kesedihan berkepanjangan, gangguan tidur, atau membuat seseorang tidak mampu menjalankan aktivitas normal, persoalannya perlu dilihat lebih serius.

Jangan buru-buru melawan pikiran yang muncul

Ketika sebuah kenangan muncul tiba-tiba, respons paling sederhana sebenarnya adalah membiarkannya lewat.

Tidak perlu panik.

Tidak perlu langsung mencari makna tersembunyi.

Dan tidak perlu mengambil keputusan besar hanya karena sebuah kenangan muncul pada malam tertentu.

Kita dapat mengakui bahwa kenangan itu ada, kemudian kembali kepada aktivitas yang sedang dilakukan.

Jika memang ada emosi yang menyertainya, kita juga dapat bertanya kepada diri sendiri: apakah yang sebenarnya dirindukan adalah orangnya, masa kehidupannya, perasaan ketika bersama orang tersebut, atau sekadar suasana masa lalu?

Pertanyaan sederhana itu terkadang membantu kita memahami diri sendiri.

Otak tidak selalu bekerja seperti yang kita perintahkan

Ada bagian menarik dari kehidupan manusia: kita dapat mengendalikan banyak tindakan, tetapi tidak selalu dapat menentukan kapan sebuah kenangan muncul.

Otak memiliki jaringan dan proses yang tetap bekerja ketika kita tidak sedang memberikan perhatian penuh terhadap lingkungan.

Karena itu, pikiran dapat bergerak dari pekerjaan saat ini menuju masa lalu, kemudian kembali lagi ke masa kini.

Mungkin inilah alasan mengapa seseorang dapat sedang menulis sebuah artikel kesehatan pada malam hari, lalu tiba-tiba teringat seseorang yang sudah lama tidak dipikirkannya.

Bukan berarti otaknya bermasalah.

Bukan pula berarti masa lalu sedang meminta untuk diulang.

Bisa jadi, sederhana saja: otak sedang berada dalam mode otomatis.

Dan sesekali, ketika perhatian kita sedikit mengendur, sebuah kenangan lama menemukan jalan untuk kembali mengetuk pintu kesadaran.

Barangkali kita tidak perlu selalu mengusirnya.

Cukup menyadarinya, memahami perasaan yang muncul, lalu kembali melanjutkan hidup.

Sebab, mengingat masa lalu adalah bagian dari menjadi manusia. Yang lebih penting bukan apakah sebuah kenangan pernah muncul kembali, melainkan bagaimana kita memilih untuk menyikapinya. (**)
Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  •  Otak Sedang Berada dalam Mode Otomatis: Mengapa Tiba-Tiba Kita Mengingat Seseorang?
  •  Otak Sedang Berada dalam Mode Otomatis: Mengapa Tiba-Tiba Kita Mengingat Seseorang?
  •  Otak Sedang Berada dalam Mode Otomatis: Mengapa Tiba-Tiba Kita Mengingat Seseorang?
  •  Otak Sedang Berada dalam Mode Otomatis: Mengapa Tiba-Tiba Kita Mengingat Seseorang?
  •  Otak Sedang Berada dalam Mode Otomatis: Mengapa Tiba-Tiba Kita Mengingat Seseorang?
  •  Otak Sedang Berada dalam Mode Otomatis: Mengapa Tiba-Tiba Kita Mengingat Seseorang?