Aksi Ekstrem Tolak Geothermal, Aktivis dan Relawan Lari 150 KM dari Lereng Lawu ke Semarang
KARANGANYAR — Demi menjaga kelestarian alam dan menolak rencana proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Geothermal di kawasan Gunung Lawu, sejumlah aktivis lingkungan dan relawan nekat melakoni aksi ekstrim. Mereka menggelar aksi lari jarak jauh sejauh 150 kilometer, membentang dari lereng Gunung Lawu, Karanganyar hingga ke Kantor Gubernur Jawa Tengah di Semarang.
Aksi yang dimulai pada Selasa (22/9/2026) pagi sekitar pukul 09.00 WIB ini mengambil titik start dari jembatan perbatasan Jawa Tengah–Jawa Timur. Terik matahari yang menyengat tak melunturkan semangat para pelari untuk membawa pesan perlindungan lingkungan.
Berdasarkan pantauan di lapangan, rombongan peserta tiba di depan Kantor Bupati Karanganyar sekitar pukul 15.30 WIB. Setelah menggelar orasi singkat di kawasan Alun-Alun Karanganyar, para peserta kembali melanjutkan perjalanan menuju Solo, sebelum beristirahat di Boyolali untuk melanjutkan rute keesokan harinya, Rabu (23/9/2026).
Koordinator Lapangan, Aan Shopuanudin, menjelaskan bahwa aksi ini melibatkan dua pelari utama yang menempuh jarak penuh 150 km, yaitu Zainudin (34), seorang relawan Gunung Lawu sekaligus atlet trail run, serta Jumadi, warga asal Jenawi. Semula terdapat tiga pelari, namun satu peserta terpaksa mundur di tengah jalan.
"Selain pelari utama, ada 59 peserta lain yang berpartisipasi secara estafet di beberapa titik rute. Selama perjalanan dari lereng Lawu hingga Semarang, tim dipandu dan dikawal penuh oleh para relawan dari Kabupaten Karanganyar," ujar Aan, Selasa (22/9/2026).
Aan menegaskan bahwa aksi lari marathon ini diusung untuk menyuarakan penolakan keras terhadap penetapan kembali Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) di kawasan Gunung Lawu, khususnya wilayah Jenawi.
"Dulu status WKP Gunung Lawu sempat diberhentikan, tetapi baru-baru ini ada pengumuman lelang WKP baru di Jenawi. Pernyataan kementerian bahwa titik tersebut bukan bagian dari Gunung Lawu itu sangat konyol," tegas Aan.
Pihaknya mengkhawatirkan dampak jangka panjang jika proyek panas bumi tersebut dipaksakan berjalan. Di antaranya ancaman krisis air bersih, pencemaran lingkungan, hingga kerusakan kedaulatan pangan lokal.
"Kawasan Jenawi merupakan lumbung pertanian. Jika ekosistemnya terganggu, otomatis sektor pertanian dan mata pencaharian warga ikut hancur," tambahnya.
Sebagai langkah edukasi warga, para aktivis berencana mengajak masyarakat terdampak di sekitar kawasan proyek untuk berkunjung langsung ke Dieng, guna melihat secara riil dampak sosial dan lingkungan dari keberadaan proyek geothermal.
Selain isu geothermal, aksi ini juga menyoroti maraknya privatisasi kawasan wisata di lereng Gunung Lawu. Meski berdampak pada perekonomian, Aan mengingatkan bahwa pembangunan fasilitas wisata kerap mengabaikan pentingnya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).
Aksi lari 150 km ini ditargetkan tuntas pada Kamis (24/9/2026). Di Semarang, para pelari Karanganyar akan bergabung dengan massa aksi Jateng Guyub dari berbagai kabupaten/kota se-Jawa Tengah untuk memperingati Hari Tani Nasional.
Sementara itu, Zainudin, salah satu pelari utama yang juga atlet trail run, mengungkapkan alasan emosionalnya bergabung dalam aksi berat ini. Bagi Zainudin, aksi lari ekstrim bukan hal baru—pada 2022 lalu, ia pernah berlari sejauh 600 km dari lereng Lawu menuju Monas Jakarta untuk menggalang kepedulian bagi anak-anak penderita kanker.
"Prinsipnya sederhana: kalau kita jaga alam, alam akan memberi kehidupan untuk kita. Tapi kalau alam dirusak oleh manusia serakah, alam tidak akan tinggal diam," tandas Zainudin. (hrs)

