Ikan Asin dari Kabupaten Kepulauan Selayar Ternyata Laris Di NTT
SUARA NEGERI | KUPANG — Ikan asin dari Kabupaten Kepulauan Selayar memang cukup terkenal dan banyak diminati oleh warga di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ada beberapa alasan kuat kenapa produk ini begitu disukai.
"Yang jelas cita rasanya berbeda dengan hasil di Kupang, walaupun kita sama-sama wilayah kepulauan," kata Bandar Ikan, Amak Saleh, saat ditemui SuaraNegeri.co.id pada Jumat (20/3).
Menurutnya, Perairan Selayar dikenal masih relatif bersih dan kaya ikan. Ini yang membuat bahan baku ikan asin terasa berbeda.
"Dari pengecer di pasar yang bercerita, bahwa ikan asin dari selayar itu lebih segar saat diolah. Dagingnya lebih padat. Dan rasa alami ikan tetap kuat," ungkap Amak.
Hasilnya, ikan asin dari Selayar punya cita rasa yang lebih “bersih” dan gurih dibandingkan beberapa daerah lain.
Ia berpendapat produsen ikan asin di Selayar umumnya masih menggunakan cara tradisional, seperti penggaraman tidak berlebihan dan dijemur alami dengan sinar matahari. serta minim bahan pengawet.
"Ini yang membuat rasanya lebih alami dan tidak terlalu asin menusuk," ujarnya.
Seperti diketahui, di NTT, pola makan cenderung sederhana dan berbasis pada Jagung, ubi, atau nasi. Lauk yang tahan lama adalah alternatif ikan asin Selayar sangat cocok karena gurihnya pas untuk lauk sederhana.
Yang kerap menjadi kendala, kata Amak, yakni terkait jalur distribusi yang sudah lama terbangun sering dikalahkan oleh faktor cuaca.
"Hubungan dagang antara Sulawesi Selatan dan NTT sudah berlangsung lama. Pedagang disini sudah terbiasa memasok ikan asin dari Selayar, karena selama ini harga relatif stabil," kata dia.
Hal ini yang menyebabkan ketersediaan stok cukup terjaga. Jadi secara ekonomi dan logistik, ikan Selayar lebih mudah masuk ke pasar NTT.
Ada kepercayaan pedagang pasar di NTT, ikan Selayar dianggap lebih bersih dan tidak berbau tajam.
"Konsumen sudah percaya kualitasnya, sehingga pedagang pun lebih yakin menjualnya," tukas Amak.
Dalam pandangan Amak, ikan asin Selayar disukai warga NTT bukan hanya soal rasa, tapi kombinasi kualitas bahan (prodak), cara produksi alami dan kecocokan budaya makan.
Harga Ikan Tergantung Cuaca
Menurut Bandar Ikan Amak Saleh, harga eceran di NTT bisa tembus di kisaran Rp80–120 ribu/kg (tergantung jenis).
"Kalau lancar, margin bisa di kisaran 30% – 100% tergantung cuaca juga," kata dia.
Misalnya, Ia membeli ikan asin dengan modal barang ± Rp3–5 juta. Lalu prediksi Ongkir kapal ± Rp500 ribu – 1 juta, sehingga perlu modal awal ± Rp4–6 juta.
"Tetapi potensi jual bisa jadi Rp7–10 juta. Itu pengalaman saya selama ini," ujarnya.
Terkait margin, kata Amak, masih bisa “dimainkan” karena harga dari Selayar (grosir) di kisaran Rp25–40 ribu/kg. Namun sampai di NTT bisa terjual Rp45–70 ribu/kg.
"Enaknya bisnis di sektor ini, barang tak kenal basi," ucapnya menyakinkan.
Alur distribusi ikan asin dari Kepulauan Selayar ke wilayah NTT sebenarnya cukup panjang, tapi sudah terbentuk sejak lama karena jalur perdagangan laut tradisional.
Saat ini, harga ikan asin di Kepulauan Selayar bervariasi, umumnya berkisar antara puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah per kilogram, tergantung jenis ikan dan kualitasnya.
Ikan asin khas Selayar, seperti Sunu dan Kerapu, dihargai sekitar Rp95.000 - Rp119.000 per kg, dengan harga ikan asin sunu 1/2 kg sekitar Rp43.000 - Rp55.000. (*)
Reporter ■ Robert Malingka
Editor ■ Rasyid Munandar

.jpeg)