Minyak, Oligarki dan Perang yang Dijual Sebagai Pasar
Ketika Energi Dunia Dikuasai Kartel Negara, Korporasi, dan Pedagang Ketakutan
Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP. (WKU Bidang Migas Kadin Jatim)
Di sebuah pom bensin, rakyat kecil selalu menjadi pihak terakhir yang tahu, tetapi pihak pertama yang membayar.
Ia tidak ikut rapat kabinet. Ia tidak duduk di forum investor. Ia tidak hadir di CERAWeek, Houston, tempat para raksasa energi, pejabat negara, bankir, konsultan, dan penjual masa depan berkumpul sambil bicara tentang “konvergensi”, “transisi”, “ketahanan”, dan “inovasi”. Ia hanya tahu harga bensin naik. Ongkos hidup naik. Harga pangan ikut merangkak. Tarif angkut menekan. Pendapatannya tetap. Hidupnya menyempit.
Namun justru di situlah inti kekuasaan energi modern bekerja: rakyat dipaksa menanggung akibat dari keputusan yang dibuat dalam ruang-ruang yang tak pernah mereka masuki.
Itulah wajah asli geopolitik energi hari ini. Minyak bukan lagi sekadar komoditas. Ia adalah alat perintah. Alat tekan. Alat pemerasan. Alat pembentukan kepatuhan global. Ia bisa mengubah hasil pemilu, mengguncang anggaran negara, menjatuhkan mata uang, membenarkan perang, menghidupkan rezim, dan membiayai kemewahan elite. Dan yang paling ironis: semua itu kerap dijual dengan bahasa yang seolah teknokratis, seolah netral, seolah semata urusan pasar.
Padahal kita tahu: pasar energi global tidak pernah netral. Ia adalah panggung tempat negara kuat, korporasi raksasa, kartel produksi, lembaga keuangan, spekulan, dan militer bersekutu atau bertarung untuk menentukan siapa yang berhak hidup lebih murah dan siapa yang harus hidup lebih mahal.
CERAWeek 2026 di Houston mengusung tema yang terdengar modern dan canggih: Convergence and Competition: Energy, Technology and Geopolitics. Kedengarannya elegan. Tetapi di balik bahasa halus itu, sesungguhnya yang sedang diakui adalah ini: dunia energi telah sepenuhnya menjadi arena benturan kekuasaan. Energi tak lagi bisa dipisahkan dari perang, teknologi tak lagi bisa dipisahkan dari dominasi, dan geopolitik tak lagi bisa disembunyikan di balik jargon efisiensi.
Masalahnya, forum-forum semacam itu jarang sekali bicara jujur sampai ke akar. Mereka mau bicara tentang risiko pasokan, tetapi tidak mau bicara bahwa banyak risiko itu dipelihara oleh sistem global yang justru menguntungkan elite energi. Mereka suka bicara tentang keamanan energi, tetapi enggan menjelaskan keamanan untuk siapa.
Mereka gemar bicara tentang masa depan hijau, tetapi menutup mata pada kenyataan bahwa transisi energi sedang dibangun di atas pola lama: ekstraksi brutal, ketimpangan nilai tambah, dan penaklukan negara lemah oleh modal besar. Maka kalau kita ingin jujur, kita harus mulai dari kalimat yang tidak sopan bagi telinga para pejabat, bankir, dan CEO: harga energi dunia hari ini terlalu penting untuk diserahkan kepada gabungan kartel negara produsen, korporasi multinasional, dan pedagang ketakutan yang mencari untung dari setiap ledakan konflik.
Perang yang Tidak Pernah Benar-Benar Selesai karena Terlalu Menguntungkan*
Setiap kali Timur Tengah memanas, dunia pura-pura terkejut. Harga minyak melonjak. Para analis muncul di televisi. Para pejabat menyerukan stabilitas. Investor menyebut pasar “sedang menyesuaikan risiko”. Dan perusahaan-perusahaan energi dengan wajah serius berbicara tentang pentingnya menjaga suplai.
Tetapi marilah kita berhenti sejenak dan bertanya lebih jujur: siapa sebenarnya yang selalu untung dari dunia yang terus cemas?
Perang memang menghancurkan banyak hal. Tetapi perang, ketegangan, ancaman sanksi, sabotase, dan drama di jalur distribusi energi juga menciptakan satu komoditas yang sangat mahal: ketakutan. Dan ketakutan adalah bahan bakar paling berharga di pasar energi modern.
Harga minyak tidak hanya naik karena pasokan betul-betul hilang. Sering kali harga melonjak hanya karena pasar takut pasokan akan terganggu. Dengan kata lain, dalam ekonomi energi, rasa takut sudah cukup untuk memindahkan milyaran dolar. Satu ledakan, satu ancaman blokade, satu serangan drone, satu pernyataan pejabat, satu rumor di selat strategis—semuanya bisa memicu efek berantai dari bursa komoditas sampai warung makan.
Di sinilah oligarki energi global bekerja dengan wajah paling licin. Mereka tidak perlu menciptakan perang total setiap hari. Cukup memastikan dunia selalu berada dalam tegangan yang cukup tinggi untuk menghasilkan premi risiko. Bukan perang yang sepenuhnya mematikan bisnis, tetapi ketidakstabilan yang cukup untuk membuat harga tinggi, kontrak asuransi mahal, dan negara-negara pengimpor panik.
Karena itu, dalam geopolitik energi, perdamaian total sering kali tidak menarik. Terlalu tenang berarti harga turun. Terlalu stabil berarti laba menyusut. Terlalu damai berarti argumen keamanan energi kehilangan nilai jual. Yang ideal bagi banyak pemain besar justru dunia yang setengah demam: tidak sehat, tetapi tidak mati. Dunia yang cukup panas untuk menguntungkan, tetapi belum cukup runtuh untuk menghancurkan sistem.
Kita harus berani mengatakan ini: ada ekonomi politik ketegangan dalam pasar energi global. Ia hidup dari ketidakpastian. Ia memberi makan institusi keuangan, perusahaan asuransi maritim, kontraktor keamanan, eksportir senjata, korporasi minyak, dan negara-negara produsen yang anggarannya senang jika harga tetap tinggi.
Jadi ketika seorang sopir truk di Texas, seorang buruh di Jakarta, atau seorang nelayan di Surabaya harus membayar lebih mahal untuk bahan bakar, ia bukan sekadar korban pasar. Ia adalah korban dari tata dunia yang menjadikan kecemasan geopolitik sebagai model bisnis.
Kartel yang Dihormati sebagai Stabilitator
Ada kemunafikan lain yang lebih besar lagi. Dunia liberal yang setiap hari mengkhotbahi persaingan, efisiensi, dan pasar bebas, mendadak menjadi sangat toleran ketika yang bermain adalah kartel energi.
OPEC dan turunannya diperlakukan seolah aktor rasional yang menjaga stabilitas pasar. Dalam bahasa yang lebih jujur, mereka adalah kelompok negara produsen yang mengatur suplai untuk mempertahankan daya tawar dan harga. Di sisi lain, negara-negara besar konsumen juga tak kalah munafik. Mereka mengecam manipulasi ketika harga terlalu tinggi, tetapi tidak keberatan menggunakan cadangan strategis, tekanan diplomatik, sanksi, atau instrumen keuangan untuk menekan pasar ke arah yang mereka inginkan.
Dengan kata lain, semua pihak ingin intervensi asal intervensi itu menguntungkan mereka.
Pasar energi global karena itu bukan arena pasar bebas, melainkan pasar yang dikerumuni negara, korporasi, dan kepentingan strategis. Tidak ada tangan tak terlihat. Yang ada adalah terlalu banyak tangan terlihat, semuanya berebut memutar keran yang sama.
Dan di tengah semua itu, korporasi minyak multinasional memainkan peran ganda yang sangat canggih. Ketika harga tinggi, mereka bicara tentang realitas pasar. Ketika dituduh mengeruk untung berlebihan, mereka bicara tentang kebutuhan investasi jangka panjang. Ketika dikritik soal iklim, mereka bicara tentang transisi. Ketika transisi diminta dipercepat, mereka bicara tentang keamanan pasokan. Mereka selalu punya bahasa untuk semua cuaca. Ini bukan fleksibilitas; ini adalah seni bertahan hidup oligarki.
Yang lebih jahat lagi, korporasi raksasa dan negara besar sama-sama pandai mengubah tanggung jawab politik menjadi seolah masalah alamiah. Harga naik? Katanya karena pasar global. Konflik berkepanjangan? Katanya dinamika sejarah. Ketimpangan akses energi? Katanya negara-negara berkembang belum efisien. Padahal di balik semua itu ada struktur kekuasaan yang sangat nyata: siapa memiliki ladang, siapa menguasai teknologi, siapa punya armada tanker, siapa mengendalikan pembiayaan, siapa menentukan mata uang perdagangan, siapa menguasai asuransi, siapa bisa menjatuhkan sanksi, dan siapa bisa memaksa negara lain patuh.
CERAWeek: Katedral Kapitalisme Energi
Mari kita bicara blak-blakan tentang CERAWeek. Forum itu sering dipuja sebagai ruang penting untuk membahas masa depan energi. Baik. Tetapi ia juga bisa dibaca sebagai katedral kapitalisme energi global: tempat para imam industri, pejabat kekuasaan, dan bankir masa depan berkhotbah tentang keselamatan dunia sambil memastikan arsitektur keuntungan lama tetap berdiri.
Di sana, semua istilah terdengar mulia: energy security, resilience, innovation, transition, cooperation. Tetapi kata-kata itu terlalu sering dipakai untuk menutupi hal sederhana: dunia belum benar-benar berniat melepaskan energi dari struktur oligarkisnya. Yang dilakukan justru merapikan transisi agar kepemilikan kekuasaan tidak terlalu berubah.
Kalau para elite energi itu sungguh jujur, mereka seharusnya mengakui beberapa hal.
Pertama, transisi hijau global sampai hari ini masih sangat elitis. Negara-negara maju ingin dekarbonisasi, tetapi mereka juga ingin tetap memegang teknologi, pembiayaan, standar, dan rantai pasok. Negara berkembang diminta disiplin iklim, tetapi ketika mereka ingin membangun hilirisasi dan kedaulatan industri sendiri, tiba-tiba yang muncul adalah khotbah tentang pasar terbuka dan anti-proteksionisme.
Kedua, dunia energi fosil dan energi baru tidak benar-benar terpisah. Banyak pemain yang sama kini hanya pindah bahasa. Perusahaan besar yang kemarin bicara sumur minyak, hari ini bicara CCS, hidrogen, atau net zero. Bank yang kemarin membiayai ekspansi hidrokarbon, hari ini menjual obligasi hijau. Konsultan yang kemarin membela eksplorasi, hari ini menulis strategi transisi. Apakah struktur kekuasaannya berubah? Belum tentu. Sering kali yang berubah hanya brosurnya.
Ketiga, oligarki energi lama kini sedang bersiap menjadi oligarki energi baru. Mereka tidak bodoh. Mereka tahu minyak suatu saat tidak lagi menjadi raja tunggal. Karena itu mereka masuk ke listrik, data center, AI, baterai, mineral kritis, hidrogen, dan infrastruktur transisi. Mereka tidak ingin kehilangan tahta; mereka hanya ingin mengganti kostum.
Jadi ketika Houston memanggungkan percakapan tentang masa depan energi, kita perlu mendengarnya dengan telinga kritis. Jangan-jangan yang sedang dibahas bukan pembebasan dunia dari tirani energi lama, melainkan bagaimana tirani itu diperbarui agar tetap menguntungkan pemilik modal besar.
Dari Minyak ke Mineral: Penjajahan Ganti Seragam
Ada dongeng manis yang kini laris dijual: dunia sedang meninggalkan minyak yang kotor dan memasuki era energi bersih yang lebih adil. Dongeng itu enak didengar, tetapi sangat berbahaya jika dipercaya tanpa kritik. Sebab transisi energi hari ini tidak otomatis membongkar geopolitik lama. Ia justru menciptakan perebutan baru: lithium, nikel, kobalt, tembaga, rare earths, dan mineral lain yang dibutuhkan untuk baterai, panel surya, kendaraan listrik, jaringan listrik, dan teknologi pertahanan. Artinya, kalau dulu dunia bertikai soal sumur dan jalur tanker, hari ini ia juga bertikai soal tambang, smelter, teknologi pemrosesan, dan rantai pasok bahan kritis.
Minyak mungkin akan surut perlahan, tetapi logika dasarnya tetap sama: siapa menguasai energi dan teknologinya, ia menguasai syarat hidup peradaban. Karena itu, jangan cepat mabuk oleh kata “hijau”. Kapitalisme global sangat pandai mengecat dirinya dengan warna moral. Tambang yang merusak bisa diberi label transisi. Proyek yang memindahkan penderitaan ke negara berkembang bisa diklaim sebagai penyelamatan iklim. Negara-negara maju bisa merasa saleh karena mengurangi emisi domestik, sementara ekstraksi kotor dipindahkan ke belahan bumi lain.
Ini bukan masa depan yang adil. Ini hanya kolonialisme energi dengan estetika baru.
Negara-negara kaya akan menuntut pasokan mineral untuk transisi mereka. Perusahaan teknologi akan menuntut kepastian bahan baku. Lembaga keuangan akan membiayai proyek-proyek yang disebut berkelanjutan. Tetapi nilai tambah tertinggi, standar teknologi, paten, pembiayaan murah, dan kontrol pasar tetap terkonsentrasi di pusat. Sementara negara kaya sumber daya di Selatan Global sering kembali diposisikan sebagai penyedia bahan mentah, tenaga murah, dan ruang ekologis untuk dikorbankan.
Jadi, dalam dunia energi baru, pertanyaannya tidak cukup: apakah dunia menjadi lebih hijau? Pertanyaan yang lebih jujur adalah: siapa yang menjadi hijau, dan siapa yang tetap dikorbankan agar yang lain tampak hijau?
Negara-Negara Berkembang: Korban Permanen Tata Energi Global
Bagi negara-negara berkembang, pasar energi global ibarat kasino yang aturannya dibuat orang lain, chip-nya milik orang lain, tetapi tagihan kekalahannya harus ditanggung sendiri.
Ketika harga minyak naik, negara importir terkena pukulan berlapis. Neraca perdagangan terganggu. Mata uang tertekan. Inflasi naik. Subsidi membengkak. Belanja sosial terancam terpangkas. Biaya logistik melonjak. Industri melemah. Kelas menengah tercekik. Yang miskin makin rapuh.
Lalu datang para penasihat global dengan resep standar: reformasi harga, kurangi subsidi, perbaiki targeting, jaga kredibilitas fiskal. Semua terdengar waras di atas kertas. Tetapi kertas tidak pernah antre beli LPG. Kertas tidak pernah naik ojek ke pasar. Kertas tidak pernah memilih antara beli solar untuk perahu atau beras untuk keluarga.
Masalahnya bukan semata teknis kebijakan. Masalahnya adalah bahwa negara-negara berkembang terus dipaksa menyesuaikan diri pada sistem energi dunia yang dibentuk tanpa mereka pernah punya daya menentukan yang setara.
Mereka diminta tangguh dalam menghadapi volatilitas, padahal volatilitas itu diproduksi oleh konfigurasi kekuasaan yang jauh di luar kendali mereka. Mereka diminta disiplin fiskal, sementara ekonomi global tetap mentoleransi laba besar yang lahir dari krisis energi. Mereka diminta bertransisi, tetapi akses pembiayaan dan teknologi tetap mahal. Mereka diminta tidak proteksionis, tetapi negara maju sendiri mensubsidi industrinya ketika merasa tertinggal.
Itulah sebabnya kritik terhadap oligarki energi global bukan semata amarah ideologis. Ia adalah syarat minimum untuk membaca dunia secara waras.
Amerika, Timur Tengah, dan Mitologi Netralitas
Amerika Serikat tentu selalu ingin tampil sebagai penjaga stabilitas energi global. Tetapi sejarah terlalu panjang untuk dibersihkan dengan konferensi pers. Hubungan Washington dengan Timur Tengah, dengan monarki minyak, dengan keamanan jalur strategis, dengan industri pertahanan, dan dengan dolar sebagai mata uang energi bukanlah kisah netralitas. Ia adalah kisah tentang bagaimana keamanan energi global kerap didefinisikan sesuai kebutuhan hegemoni.
Minyak, dolar, angkatan laut, dan industri senjata telah lama saling mengunci dalam arsitektur yang membuat dominasi global tampak legal, normal, dan bahkan perlu. Dunia diberi tahu bahwa stabilitas harus dijaga. Baik. Tetapi stabilitas versi siapa? Stabilitas yang menjamin pasokan murah bagi industri global Utara? Stabilitas yang memungkinkan sistem keuangan Barat tetap menjadi pusat? Stabilitas yang menjaga rezim-rezim tertentu tetap aman selama minyak tetap mengalir?
Yang lebih licik, ketika Amerika memasuki era shale dan menjadi produsen besar, narasi yang muncul adalah kemandirian energi. Padahal bahkan produsen besar pun tetap hidup dalam pasar global yang harga dan psikologinya saling terhubung. Tidak ada negara yang sepenuhnya kebal. Tetapi jelas ada negara yang jauh lebih sanggup menyerap guncangan karena punya produksi, teknologi, cadangan strategis, dan kapasitas fiskal. Sementara itu, negara-negara lemah dipaksa menonton.
Kemunafikan Besar Bernama Transisi
Tidak ada kalimat yang lebih sering disalahgunakan dalam satu dekade terakhir selain “transisi energi”.
Di mulut elite global, transisi terdengar seperti proyek moral umat manusia. Dalam praktiknya, ia terlalu sering berubah menjadi proyek restrukturisasi keuntungan. Semua orang setuju energi bersih penting. Semua orang tahu perubahan iklim nyata. Semua orang mengerti dunia tak bisa selamanya bergantung pada hidrokarbon. Tetapi justru karena isu ini besar dan mulia, ia sangat mudah dibajak.
Transisi bisa menjadi dalih baru untuk subsidi korporasi besar. Transisi bisa menjadi alasan untuk merebut cadangan mineral negara lain. Transisi bisa menjadi pembenaran bagi proteksionisme teknologi oleh negara maju. Transisi bisa menjadi pasar baru untuk instrumen keuangan hijau yang lebih menguntungkan bank daripada komunitas terdampak. Transisi bahkan bisa menjadi cara paling elegan untuk mempertahankan ketimpangan lama sambil berfoto dengan panel surya.
Inilah sebabnya kita harus curiga setiap kali elite energi bicara terlalu manis tentang masa depan. Mereka sering tidak sedang menyelamatkan dunia; mereka sedang memastikan kursi mereka ikut terselamatkan.
Apa yang Harus Dikatakan dengan Terang
Kita perlu menutup artikel ini dengan kalimat yang lebih keras daripada basa-basi diplomatik.
Pertama, minyak bukan sekadar komoditas; ia adalah instrumen kekuasaan global. Selama struktur pasar, jalur distribusi, pembiayaan, dan keamanan energi dikuasai segelintir aktor, rakyat dunia akan terus membayar mahal untuk konflik yang tidak mereka ciptakan.
Kedua, oligarki energi global hidup dari dunia yang tidak pernah benar-benar tenang. Ketegangan geopolitik, sanksi, blokade, dan ancaman distribusi bukan sekadar risiko; bagi banyak pemain besar, itu juga peluang.
Ketiga, transisi energi tanpa koreksi struktur kekuasaan hanya akan melahirkan oligarki baru. Dunia bisa pindah dari minyak ke baterai, dari sumur ke mineral, dari tanker ke kabel, tetapi tetap mempertahankan ketidakadilan yang sama.
Keempat, forum-forum global seperti CERAWeek harus dibaca bukan hanya sebagai ruang gagasan, tetapi juga sebagai ruang reproduksi kepentingan. Yang dibicarakan di sana bukan sekadar masa depan energi, melainkan siapa yang diizinkan memiliki masa depan itu.
Pada akhirnya, ketika rakyat kecil melihat angka di pom bensin terus naik, ia seharusnya tidak diajari menerima itu sebagai “mekanisme pasar” yang abstrak. Ia berhak tahu bahwa di balik angka itu ada struktur kuasa, ada kartel, ada perang kepentingan, ada korporasi yang terlalu besar untuk dipermalukan, ada negara yang terlalu kuat untuk disalahkan, dan ada sistem global yang terlalu nyaman menjadikan penderitaan massal sebagai biaya operasional.
Mungkin itu sebabnya minyak tetap begitu penting dalam sejarah modern. Bukan hanya karena ia menyalakan mesin, tetapi karena ia membuka tabir paling jujur tentang dunia: bahwa peradaban ini masih terlalu sering digerakkan bukan oleh keadilan, bukan oleh rasionalitas publik, melainkan oleh koalisi rakus antara kekuasaan, ketakutan, dan keuntungan.
Dan selama koalisi itu belum dipatahkan, setiap forum energi dunia betapa pun mewah, canggih, dan penuh jargon masa depan pada dasarnya tetap hanyalah panggung di mana para penguasa lama belajar berbicara dengan bahasa baru. (*)

