2 Pembangkit Listrik Israel Masuk Daftar Serangan, Ultimatum Donald Trump Picu Ketegangan
SUARA NEGERI | TEHERAN — Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat tajam. Iran dikabarkan telah memasukkan dua pembangkit listrik utama Israel ke dalam daftar target serangan, sebagai respons atas potensi serangan terhadap infrastruktur energi Teheran.
Langkah ini muncul di tengah laporan media internasional Reuters yang mengutip pejabat militer Israel terkait rencana serangan terhadap fasilitas energi Iran.
Sumber yang mengetahui perkembangan tersebut menyebutkan bahwa dua pembangkit listrik vital yang memasok energi ke wilayah Israel kini telah masuk dalam “daftar target” yang disusun oleh Ruang Perang Gabungan Front Perlawanan.
Kebijakan ini disebut sebagai bagian dari strategi “balasan-respons” Iran, yang menegaskan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur vital mereka akan dibalas secara langsung dan terukur.
Sebelumnya, seorang pejabat militer senior Israel mengungkapkan bahwa negaranya tengah bersiap melakukan serangan terhadap fasilitas energi Iran. Namun, langkah tersebut masih menunggu persetujuan dari Amerika Serikat.
Pejabat tersebut juga menyebut kemungkinan serangan dapat terjadi dalam waktu dekat, bahkan diperkirakan dalam hitungan minggu.
Situasi semakin memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan memberikan ultimatum selama 48 jam kepada Iran, yang semakin memperbesar potensi eskalasi konflik di kawasan.
Sebelumnya, Reuters mengutip seorang pejabat militer senior Israel yang mengatakan pada hari Sabtu (4/4/2026) bahwa Israel sedang bersiap untuk menyerang fasilitas energi Iran tetapi sedang menunggu lampu hijau dari Amerika Serikat.
Pejabat itu menambahkan bahwa serangan semacam itu kemungkinan akan terjadi dalam minggu depan.
Dengan kedua pihak sama-sama meningkatkan kesiapan militer, dunia kini menyoroti Timur Tengah dengan penuh kewaspadaan. Apakah konflik terbuka akan benar-benar terjadi, atau masih ada ruang diplomasi? (Tasnim/Dea Ananda)

