Dr. KH. AM Mustain Nasoha Kupas Ilmu Muroqobah dan Ma'rifatullah di Masjid Agung Surakarta dalam Kajian Kitab Ihya' Ulumuddin
SUARA NEGERI ■ SURAKARTA — Kajian rutin Kitab Ihya' Ulumuddin karya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali yang diselenggarakan di Masjid Agung Surakarta kembali dipenuhi jamaah dari berbagai kalangan.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. KH. Ahmad Muhammad Mustain Nasoha menyampaikan kajian mengenai muroqobah dan ma'rifatullah, dua konsep penting dalam tasawuf yang menjadi dasar penyucian jiwa, pembinaan akhlak, dan penguatan hubungan seorang hamba dengan Allah SWT. Kajian ini merupakan bagian dari rangkaian pengajian yang secara rutin disiarkan melalui kanal resmi Masjid Agung Surakarta.
Pengajian Ihya' Ulumuddin ini telah berlangsung secara istiqamah selama delapan tahun, diselenggarakan setiap Sabtu malam Ahad ganjil, dan diasuh oleh Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta, Dr. KH. Ahmad Muhammad Mustain Nasoha. Dalam setiap pertemuan, beliau tidak hanya membacakan matan Ihya' Ulumuddin, tetapi juga menguraikannya dengan merujuk kepada kitab syarah yang sangat masyhur, yaitu Ithaf al-Sadah al-Muttaqin bi Syarh Asrar Ihya' Ulum al-Din karya Imam Sayyid Murtadha Al-Zabidi. Melalui pendekatan ini, jamaah memperoleh pemahaman yang lebih luas karena penjelasan Imam Al-Ghazali diperkaya dengan dalil Al-Qur'an, hadis, pendapat para ulama, serta kajian mendalam mengenai akhlak dan tasawuf.
Dalam penjelasannya, Dr. KH. AM Mustain Nasoha menerangkan bahwa muroqobah adalah kesadaran hati yang terus hidup bahwa Allah SWT senantiasa mengetahui, melihat, dan mengawasi seluruh keadaan hamba-Nya. Bukan hanya amal yang tampak, tetapi juga niat, lintasan hati, dan segala yang tersembunyi dalam diri manusia tidak pernah lepas dari ilmu Allah SWT. Kesadaran inilah yang membuat seorang mukmin berhati-hati dalam setiap ucapan, perbuatan, maupun niatnya.
Beliau menjelaskan bahwa menurut Imam Al-Ghazali, muroqobah bukan sekadar memahami bahwa Allah Maha Melihat, tetapi menjadikan keyakinan tersebut hadir dalam kehidupan sehari-hari. Ketika hati selalu merasa diawasi Allah, seseorang akan terdorong untuk menjaga keikhlasan, menjauhi maksiat, memperbaiki akhlak, serta membiasakan diri melakukan muhasabah, yaitu mengevaluasi diri sebelum Allah menghisabnya kelak.
Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa muroqobah merupakan jalan menuju maqam ihsan, sebagaimana dijelaskan dalam Hadis Jibril, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya, dan apabila tidak mampu melihat-Nya maka yakinlah bahwa Allah senantiasa melihat kita. Karena itu, ibadah bukan hanya menjadi aktivitas lahiriah, tetapi juga menghadirkan hati yang selalu merasa dekat dengan Allah SWT.
Mengenai ma'rifatullah, Ketua Komisi Fatwa MUI Kota Surakarta ini menjelaskan bahwa ma'rifat berarti mengenal Allah SWT dengan hati yang dipenuhi keyakinan, kecintaan, pengagungan, dan ketundukan. Ma'rifat berbeda dengan sekadar mengetahui. Seseorang dapat memiliki banyak ilmu agama, tetapi belum tentu memiliki ma'rifat apabila ilmunya belum mengubah hati dan perilakunya menjadi lebih dekat kepada Allah SWT.
Beliau menerangkan bahwa ma'rifatullah merupakan karunia Allah yang diberikan kepada hamba yang bersungguh-sungguh membersihkan jiwanya melalui ibadah, zikir, mujahadah, tafakkur, dan istiqamah dalam mengamalkan ilmu. Semakin bersih hati seseorang dari sifat riya', ujub, hasad, takabur, dan kecintaan berlebihan terhadap dunia, semakin mudah hatinya menerima cahaya petunjuk dari Allah SWT.
Mengutip penjelasan Imam Al-Ghazali dan Imam Murtadha Al-Zabidi, beliau menjelaskan bahwa hati manusia ibarat cermin. Apabila dipenuhi noda dosa dan hawa nafsu, cermin itu tidak mampu memantulkan cahaya ma'rifat. Namun apabila terus dibersihkan melalui taubat, zikir, amal saleh, dan akhlak yang baik, maka hati akan menjadi jernih sehingga semakin mengenal kebesaran, kasih sayang, dan keagungan Allah SWT.
Menurut beliau, semakin tinggi ma'rifat seseorang kepada Allah, semakin besar pula rasa takut kepada-Nya, semakin kuat harapannya terhadap rahmat-Nya, semakin dalam kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya, serta semakin rendah hati dalam bergaul dengan sesama. Ma'rifat yang benar tidak pernah menjauhkan seseorang dari syariat, tetapi justru menjadikan ibadahnya semakin baik, akhlaknya semakin mulia, dan manfaatnya semakin dirasakan oleh masyarakat.
Mengakhiri kajian, Direktur Pusat Studi Konstitusi dan Hukum Islam Fakultas Syariah UIN Raden Mas Said Surakarta tersebut menegaskan bahwa muroqobah dan ma'rifatullah merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Muroqobah adalah proses menjaga hati agar selalu merasa berada dalam pengawasan Allah SWT, sedangkan ma'rifatullah adalah buah dari proses tersebut, yaitu semakin dalamnya pengenalan seorang hamba kepada Rabb-nya. Dari sinilah lahir pribadi yang tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga memiliki akhlak yang luhur, integritas moral yang tinggi, serta senantiasa menghadirkan nilai-nilai ilahiah dalam setiap aspek kehidupannya.
Kajian berlangsung dengan penuh kekhidmatan. Jamaah tampak antusias mengikuti penjelasan hingga akhir serta memanfaatkan sesi tanya jawab untuk memperdalam pemahaman tentang pendidikan ruhani yang diajarkan Imam Al-Ghazali. Melalui pengajian yang telah istiqamah berlangsung selama delapan tahun ini, diharapkan masyarakat tidak hanya memahami Islam dari sisi fikih semata, tetapi juga mampu menghidupkan dimensi ihsan sehingga lahir pribadi-pribadi yang berilmu, berakhlak mulia, dan senantiasa dekat dengan Allah SWT. (Red)


