Gangguan Selat Hormuz Berpotensi Lumpuhkan Sistem Pembayaran Digital Dunia
SUARA NEGERI | JAKARTA — Ancaman di Selat Hormuz kini tak lagi sekadar soal minyak dan kapal tanker. Ada bahaya yang jauh lebih sunyi, tapi dampaknya bisa bikin dunia panik dalam hitungan detik. Jika kabel internet bawah laut di kawasan itu terganggu, bukan hanya sinyal yang hilang, transaksi keuangan global bisa langsung “beku”, dari QRIS hingga transfer bank.
Oleh sebab itu, melalui channel TikTok-nya, Pengusaha Mardigu Wowiek mengingatkan bahwa kawasan ini bukan sekadar jalur kapal tanker, tapi juga “jalan tol tak kasat mata” bagi kabel internet bawah laut, urat nadi transaksi global yang diam-diam lebih sibuk dari grup WhatsApp keluarga saat Lebaran.
Menurutnya, sekitar 40 persen transaksi keuangan dunia numpang lewat di kabel optik wilayah itu. Jadi bayangkan kalau kabelnya diputus, bukan cuma sinyal yang hilang, tapi juga harapan saldo masuk tepat waktu.
Dalam skenario ini, aktivitas keuangan global bisa mendadak freeze, kayak aplikasi banking pas lagi butuh-butuhnya, tapi kali ini skalanya satu planet.
Efeknya? Jangan harap QRIS masih bisa “ting-ting” manis. Pembayaran digital, transfer bank, sampai layanan online bisa mendadak mogok kerja tanpa surat izin.
Dunia modern yang katanya serba cepat bisa tiba-tiba kembali ke mode “maaf, hanya terima tunai” itu pun kalau ATM masih sempat napas.
Belum cukup sampai di situ, memutus kabel bawah laut juga berarti internet global ikut tersendat. Cloud melayang, media sosial jadi sepi bukan karena tobat massal, dan kecerdasan buatan bisa ikut bengong karena kehilangan bahan obrolan.
Singkatnya, ekonomi digital dunia bisa limbung, bukan karena kurang inovasi, tapi karena kabelnya diputus seperti hubungan tanpa penjelasan.
Di era digital, kekuatan dunia bukan hanya di darat, laut, atau udara, tetapi juga di kabel-kabel sunyi di dasar laut. Dan jika itu terganggu, seluruh sistem bisa ikut tumbang. (dea)

