Ekonomi Sulit, Ramalan Laris: Mengapa Tarot Makin Ramai di TikTok?


SUARA NEGERI | JAKARTA — Fenomena konten tarot yang kian ramai di TikTok memunculkan pertanyaan menarik, mengapa di era kecerdasan buatan dan banjir informasi digital, masyarakat masih mencari jawaban melalui kartu ramalan? 

Sebagian pengamat menilai tren ini tak lepas dari meningkatnya kebutuhan akan harapan dan kepastian di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan banyak orang.

"Ketika dompet menipis dan masa depan terasa sulit ditebak, sebagian orang memilih mencari ketenangan bukan dari laporan ekonomi atau nasihat pakar keuangan, melainkan dari kartu tarot di TikTok," kata Suhu Paiman, pakar Tarot kepada SuaraNegeri, pada Sabtu (20/6).

Menurutnya, fenomena ini menunjukkan bahwa di tengah ketidakpastian, kebutuhan manusia akan harapan sering kali lebih kuat daripada logika statistik.

"Kita bisa mengembangkan beberapa pertanyaan kunci," lanjut dia.

Pertama, Mengapa pencarian "kepastian" meningkat saat kondisi ekonomi tidak menentu?

Kedua, Apa yang membuat konten tarot lebih menarik dibanding konten motivasi atau edukasi keuangan?

Ketika, Bagaimana algoritma TikTok memperkuat fenomena tersebut?

Keempat, Apakah tarot sekadar hiburan, atau menjadi semacam "pelarian psikologis" bagi sebagian orang?

Dan yang Kelima, Mengapa fenomena serupa juga terjadi pada astrologi, zodiak, dan spiritualitas digital?

"Jadi jawaban sebenarnya tergantung dari sudut pandang yang digunakan. Oleh sebab itu, mari kita ungkap historisnya," pungkasnya.

Secara historis

Tarot awalnya bukan alat ramalan. Tarot adalah seperangkat kartu yang muncul di Eropa sekitar abad ke-15 dan digunakan sebagai permainan kartu, mirip kartu remi. Baru pada abad ke-18 dan 19, kartu tarot mulai dikaitkan dengan mistisisme, okultisme dan praktik divinasi (meramal).

Satu dek tarot biasanya terdiri dari:

22 Major Arcana (The Fool, The Magician, The Death, dll.)

56 Minor Arcana (mirip kartu remi: Cups, Swords, Wands, Pentacles)

Secara psikologis

Ada yang melihat tarot bukan sebagai alat untuk melihat masa depan, melainkan alat refleksi diri.

Misalnya seseorang mendapat kartu The Hermit. Pembaca tarot mungkin tidak benar-benar "meramal", tetapi mengajak orang tersebut merenungkan:

Apakah saya sedang menarik diri dari lingkungan?

Apakah saya perlu waktu untuk introspeksi?

Apa yang sedang saya cari dalam hidup?

Dalam pendekatan ini, tarot dianggap mirip teknik proyeksi psikologis, seperti ketika seseorang melihat awan lalu menemukan makna tertentu sesuai kondisi batinnya.

Secara spiritual

Sebagian orang percaya tarot dapat membantu mengakses intuisi, energi spiritual, atau petunjuk dari alam semesta.

Namun keyakinan ini tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Sampai saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa tarot benar-benar mampu memprediksi masa depan secara akurat.

Secara ilmiah

Sains umumnya menjelaskan pengalaman tarot melalui beberapa fenomena:

Confirmation bias (kita lebih mudah mengingat ramalan yang cocok daripada yang meleset).

Barnum effect (kita merasa deskripsi yang umum seolah-olah sangat spesifik menggambarkan diri kita).

Kemampuan pembaca tarot membaca bahasa tubuh dan situasi klien.

Karena itu, komunitas ilmiah tidak menganggap tarot sebagai metode prediksi yang terbukti.

Jadi menurut Anda? Tanya Suara Negeri.

"Tarot lebih menarik jika dipandang sebagai alat refleksi dan bercerita tentang diri sendiri, bukan sebagai mesin yang bisa mengetahui masa depan secara pasti," jawabnya.

"Kalau digunakan untuk introspeksi, diskusi, atau memahami perasaan yang sedang kusut, tarot bisa menjadi sarana yang menarik. Tetapi kalau digunakan untuk menentukan keputusan besar, misalnya investasi, pernikahan, pengobatan, atau karier, saya akan lebih menyarankan mengandalkan data, pertimbangan rasional, dan fakta yang bisa diverifikasi," ujarnya.

Pertanyaan berikutnya, adalah fenomena di tiktok begitu ramai konten tarot, Suhu Paiman hanya tersenyum saat ditanya soal ini.

"Itu memang fenomena yang cukup besar, Bro. Dalam beberapa tahun terakhir, konten tarot di TikTok meledak karena ada perpaduan antara psikologi manusia, algoritma media sosial, dan format konten yang sangat cocok untuk platform tersebut," ucapnya.

Ia memberi beberapa alasan kenapa tarot ramai di TikTok.

1. Orang suka mencari kepastian

Ketika hidup penuh ketidakpastian soal cinta, pekerjaan, ekonomi, atau masa depan, banyak orang mencari sesuatu yang bisa memberi arah atau harapan.

Video seperti, "Jika kartu ini muncul, seseorang sedang merindukanmu.", atau "Pesan untuk zodiakmu minggu ini." dan "Ada rezeki besar yang akan datang."

secara emosional sangat menarik karena menawarkan jawaban atas kegelisahan yang banyak orang rasakan.

2. Efek "kok pas ya?"

Banyak konten tarot dibuat dengan bahasa yang sangat umum sehingga bisa terasa relevan bagi banyak orang.

Contohnya, "Kamu sedang memikirkan seseorang yang belum bisa kamu lupakan."

Kalimat seperti itu bisa cocok dengan jutaan orang sekaligus. Ketika terasa cocok, penonton sering merasa tarot tersebut "akurat".

3. Algoritma TikTok menyukai konten seperti itu

TikTok sangat memperhatikan durasi menonton, komentar, share dan interaksi emosional.

Konten tarot sering membuat orang menonton sampai habis, mengulang video, berkomentar "ini aku banget", membagikan ke teman.

Akibatnya algoritma semakin sering menyebarkannya.

4. Tarot menjadi hiburan digital

Bagi sebagian besar penonton, tarot di TikTok sebenarnya lebih dekat ke hiburan dari pada praktik spiritual yang serius.

Mirip orang membaca horoskop, jangan atau tidak selalu percaya 100%, tetapi tetap penasaran dan menikmati prosesnya.

5. Ada sisi bisnisnya

Sebagian kreator tarot kemudian menawarkan reading pribadi, kelas tarot, konsultasi spiritual dan penjualan kartu tarot.

Karena audiensnya besar, ada peluang ekonomi yang cukup menarik.

"Kalau saya melihatnya sebagai fenomena sosial, menarik bahwa popularitas tarot sering meningkat ketika masyarakat sedang menghadapi ketidakpastian ekonomi, politik, atau kehidupan pribadi. Ketika informasi semakin banyak dan dunia terasa semakin rumit, sebagian orang justru mencari jawaban yang sederhana dan personal," papar Paiman. (Sri Lestari)
Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Ekonomi Sulit, Ramalan Laris: Mengapa Tarot Makin Ramai di TikTok?
  • Ekonomi Sulit, Ramalan Laris: Mengapa Tarot Makin Ramai di TikTok?
  • Ekonomi Sulit, Ramalan Laris: Mengapa Tarot Makin Ramai di TikTok?
  • Ekonomi Sulit, Ramalan Laris: Mengapa Tarot Makin Ramai di TikTok?
  • Ekonomi Sulit, Ramalan Laris: Mengapa Tarot Makin Ramai di TikTok?
  • Ekonomi Sulit, Ramalan Laris: Mengapa Tarot Makin Ramai di TikTok?