Tagar #SellSingapore dan Pesan yang Tak Boleh Diabaikan
Catatan Redaksi: RM Gusti Haes
SUARA NEGERI | JAKARTA — Media sosial kembali menunjukkan perannya sebagai ruang ekspresi publik. Dalam beberapa hari terakhir, tagar #SellSingapore ramai diperbincangkan warganet Indonesia. Sekilas, tagar ini terlihat seperti sindiran terhadap Singapura. Namun jika dicermati lebih dalam, sesungguhnya yang sedang dibicarakan bukanlah Singapura, melainkan Indonesia.
Fenomena ini menarik karena memperlihatkan bagaimana masyarakat menggunakan negara lain sebagai cermin untuk menilai kondisi di dalam negeri. Ketika netizen membandingkan kemudahan berusaha, lapangan pekerjaan, kualitas layanan publik, hingga kepastian hukum di Singapura, yang sebenarnya mereka ungkapkan adalah harapan agar Indonesia mampu memberikan hal yang sama kepada warganya.
Karena itu, akan menjadi kekeliruan jika tagar tersebut hanya dipandang sebagai tren sesaat atau sekadar kegaduhan media sosial. Di balik ribuan unggahan dan komentar, tersimpan pesan yang jauh lebih penting, adanya keresahan yang dirasakan sebagian masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan masa depan mereka.
Dalam berbagai periode sejarah, masyarakat selalu mencari simbol untuk menyampaikan kritik. Hari ini, simbol itu hadir dalam bentuk tagar. Singapura hanyalah nama yang muncul di permukaan, sedangkan substansi yang sedang diperbincangkan adalah kesempatan kerja, daya beli, biaya hidup, kualitas pelayanan publik, dan harapan terhadap masa depan yang lebih baik.
Pemerintah, pelaku usaha, akademisi, maupun media perlu melihat fenomena ini secara proporsional. Tidak semua yang ramai di media sosial mencerminkan kondisi nyata masyarakat. Namun mengabaikan percakapan publik juga bukan pilihan yang bijak. Sebab sering kali, kegelisahan yang muncul di ruang digital merupakan pantulan dari persoalan yang benar-benar dirasakan di lapangan.
Pada akhirnya, tagar #SellSingapore bukanlah tentang menjual atau meninggalkan sebuah negara. Ia adalah sinyal bahwa sebagian masyarakat sedang mencari jawaban atas berbagai tantangan yang mereka hadapi. Dan seperti setiap sinyal sosial lainnya, pesan tersebut tidak harus disetujui, tetapi juga tidak boleh diabaikan.
Narasi Yang Berkembang
Kalau kita hubungkan dengan isu ekspor listrik ke Singapura, saya melihat ada cara membaca fenomena #SellSingapore.
Perspektif Pertama, sebagian masyarakat mungkin melihatnya begini: "Kenapa Indonesia yang masih menghadapi berbagai persoalan energi dan ekonomi justru sibuk mengekspor listrik ke negara lain?"
Ketika muncul kabar bahwa rencana ekspor listrik ke Singapura belum jadi dilaksanakan atau ditunda, sebagian netizen bisa menganggap itu sebagai bentuk "melindungi kepentingan nasional lebih dulu". Apalagi sebelumnya pemerintah memang menyatakan ekspor listrik masih dievaluasi karena faktor infrastruktur, harga, dan manfaat ekonominya bagi Indonesia.
Di media sosial, sentimen semacam ini biasanya mudah mendapat dukungan karena menyentuh isu nasionalisme ekonomi.
Menurut saya, korelasi paling menarik bukan pada soal listriknya.
Melainkan pada pertanyaan: Mengapa Singapura terus muncul dalam percakapan publik Indonesia?
Di satu sisi muncul tagar #SellSingapore yang mencerminkan kekecewaan sebagian masyarakat.
Di sisi lain, pemerintah justru terus bernegosiasi dan memperkuat kerja sama ekonomi dengan Singapura, termasuk di bidang energi bersih.
Artinya ada kontras yang menarik, di level publik, Singapura sering dijadikan simbol perbandingan. Di level pemerintah, Singapura tetap dipandang sebagai mitra strategis.
Tagar #SellSingapore menunjukkan keresahan publik terhadap masa depan ekonomi Indonesia. Namun pada saat yang sama, perdebatan mengenai ekspor listrik ke Singapura memperlihatkan bahwa tantangan Indonesia bukan sekadar memilih antara menjual atau tidak menjual listrik, melainkan bagaimana memastikan setiap kerja sama internasional benar-benar menghasilkan nilai tambah bagi rakyat Indonesia.
Terus terang, saya melihat insting netizen saat ini cukup kuat dalam menangkap isu yang sedang ramai, lalu menghubungkannya dengan kebijakan yang lebih besar. (*)

