BRICS Bukan Sekadar Kursi di Meja, Indonesia Harus Berani Menentukan Arah


Oleh : RM Gusti Haes, Ketua Umum Jamira (Jaringan Media Indonesia Raya)

Indonesia kini duduk di meja yang semakin menentukan arah ekonomi dunia.

Kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam KTT BRICS di New Delhi bukan sekadar agenda diplomatik. Untuk pertama kalinya Indonesia mengikuti pertemuan tingkat pemimpin BRICS sebagai anggota penuh. Status itu membawa satu konsekuensi penting: Indonesia tidak lagi cukup hanya hadir. Indonesia harus punya suara.

BRICS sedang berkembang menjadi salah satu ruang penting bagi negara-negara berkembang untuk membicarakan perdagangan, energi, pangan, pembiayaan pembangunan dan tata ekonomi global.

Namun di sinilah persoalannya.

Jangan sampai Indonesia masuk BRICS hanya untuk mendapatkan kursi, tetapi tidak membawa kepentingan nasional ke meja perundingan.

Indonesia memiliki modal yang tidak kecil. Populasi besar, pasar domestik luas, sumber daya alam strategis, posisi geografis di jalur perdagangan dunia serta ekonomi terbesar di Asia Tenggara.

Pertanyaannya bukan apakah Indonesia penting bagi BRICS.

Pertanyaannya: seberapa pintar Indonesia menggunakan posisi itu?

BRICS Bukan Perang Melawan Barat

Ada kecenderungan membaca BRICS secara hitam-putih: seolah keanggotaan Indonesia berarti memilih China dan Rusia sekaligus meninggalkan Amerika Serikat dan negara-negara Barat.

Cara pandang seperti itu terlalu sederhana.

Indonesia memiliki sejarah politik luar negeri yang berbeda. Prinsip bebas aktif tidak mengajarkan Jakarta untuk menjadi satelit kekuatan mana pun.

Justru karena itulah BRICS harus ditempatkan sebagai tambahan ruang diplomasi dan ekonomi, bukan sebagai pengganti hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat, Eropa, Jepang, Korea Selatan, Australia maupun mitra lainnya.

Indonesia tidak membutuhkan politik luar negeri yang memilih kubu.

Indonesia membutuhkan ruang gerak yang lebih luas.

Dalam dunia yang semakin terfragmentasi, negara yang hanya bergantung pada satu blok akan mudah kehilangan daya tawar.

Sebaliknya, negara yang memiliki hubungan dengan banyak pusat kekuatan memiliki lebih banyak pilihan.

Di situlah nilai strategis BRICS bagi Indonesia.

Dolar Bukan Satu-Satunya Cerita

Perdebatan tentang BRICS sering berhenti pada isu dedolarisasi.

Padahal persoalannya jauh lebih besar.

Yang sedang dipertaruhkan adalah siapa yang memiliki pengaruh terhadap perdagangan, pembiayaan, energi, rantai pasok, teknologi dan institusi ekonomi global.

Jika negara-negara berkembang ingin memiliki suara lebih besar, mereka membutuhkan instrumen ekonomi yang lebih beragam.

Tetapi Indonesia juga harus berhati-hati.

Mengurangi ketergantungan bukan berarti memusuhi dolar.

Dolar masih memiliki posisi sangat kuat dalam perdagangan dan sistem keuangan global. Indonesia tidak boleh mengambil keputusan ekonomi berdasarkan slogan geopolitik.

Yang dibutuhkan adalah diversifikasi.

Jika transaksi menggunakan mata uang lokal dapat mengurangi biaya dan risiko tertentu, gunakan.

Jika dolar masih paling efisien untuk transaksi tertentu, gunakan.

Kepentingan nasional harus menjadi kompas, bukan ideologi blok.

Jangan Jadikan Indonesia Sekadar Pasar

Ini yang paling penting.

Indonesia memiliki sumber daya alam yang dibutuhkan dunia. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa kekayaan sumber daya tidak otomatis membuat sebuah negara menjadi kaya.

Nilai tambah adalah kuncinya.

Indonesia tidak boleh hanya menjual komoditas mentah kepada siapa pun—Barat, China, India, Rusia atau negara lain.

Kalau BRICS membuka pasar baru bagi Indonesia, maka yang harus didorong bukan sekadar ekspor bahan mentah.

Indonesia harus membawa industri pengolahan, teknologi, investasi berkualitas, transfer pengetahuan dan penciptaan lapangan kerja ke dalam negosiasi.

Indonesia jangan hanya menjadi pemasok. Indonesia harus menjadi mitra.

Dan lebih jauh lagi, Indonesia harus berani menegosiasikan kepentingannya sebagai negara dengan pasar besar.

BRICS Harus Menguntungkan Rakyat

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan Indonesia di BRICS bukan banyaknya foto kepala negara berjabat tangan.

Bukan pula banyaknya forum yang dihadiri.

Ukuran sebenarnya sederhana:

Apakah perdagangan Indonesia meningkat?

Apakah investasi berkualitas masuk?

Apakah industri nasional naik kelas?

Apakah lapangan kerja bertambah?

Apakah biaya pembiayaan pembangunan dapat ditekan?

Apakah posisi Indonesia dalam rantai pasok global semakin kuat?

Jika jawabannya tidak, maka keanggotaan BRICS hanya akan menjadi prestise diplomatik.

Indonesia tidak membutuhkan prestise kosong.

Indonesia membutuhkan hasil.

Dunia Sedang Berubah, Indonesia Jangan Terlambat

BRICS lahir dan berkembang di tengah perubahan besar dalam ekonomi global.

Pusat pertumbuhan ekonomi semakin tersebar. Persaingan teknologi meningkat. Rantai pasok dunia berubah. Energi menjadi instrumen geopolitik. Perdagangan semakin dipengaruhi oleh keamanan nasional.

Dalam situasi seperti ini, Indonesia tidak boleh menjadi penonton.

Tetapi Indonesia juga tidak boleh terjebak menjadi pengikut.

Jakarta harus datang ke BRICS dengan agenda sendiri.

Indonesia harus mendorong perdagangan yang lebih adil, memperkuat ketahanan pangan dan energi, membuka akses pembiayaan pembangunan, memperluas pasar ekspor dan memperjuangkan kepentingan negara-negara berkembang.

Namun pada saat yang sama, Indonesia harus mempertahankan hubungan konstruktif dengan semua kekuatan ekonomi dunia.

Itulah politik luar negeri bebas aktif yang relevan untuk abad ke-21.

Bukan netral karena takut memilih.

Bukan pula berpihak karena tekanan.

Melainkan bebas menentukan kepentingan dan aktif memperjuangkannya.

Indonesia Harus Punya Suara, Bukan Sekadar Kursi

KTT BRICS di New Delhi adalah ujian awal bagi Indonesia sebagai anggota penuh.

Dunia akan melihat apakah Indonesia hanya datang sebagai negara besar baru yang bergabung dalam sebuah forum, atau benar-benar mampu menjadi kekuatan yang ikut membentuk agenda.

Bagi Indonesia, BRICS bukan tujuan akhir.

BRICS adalah alat diplomasi dan ekonomi.

Dan alat hanya akan berguna jika pemiliknya tahu untuk apa digunakan.

Karena itu, pesan kami sederhana:

Masuklah BRICS dengan kepala tegak.

Jangan menjadi pengikut China. Jangan menjadi lawan Barat. Jangan menjadi pasar bagi siapa pun.

Jadilah Indonesia.

Negara dengan kepentingan sendiri, suara sendiri dan keberanian sendiri untuk menentukan masa depannya.

Sebab di tengah perubahan tatanan dunia, negara yang tidak menentukan arah akan ditentukan oleh negara lain.

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • BRICS Bukan Sekadar Kursi di Meja, Indonesia Harus Berani Menentukan Arah
  • BRICS Bukan Sekadar Kursi di Meja, Indonesia Harus Berani Menentukan Arah
  • BRICS Bukan Sekadar Kursi di Meja, Indonesia Harus Berani Menentukan Arah
  • BRICS Bukan Sekadar Kursi di Meja, Indonesia Harus Berani Menentukan Arah
  • BRICS Bukan Sekadar Kursi di Meja, Indonesia Harus Berani Menentukan Arah
  • BRICS Bukan Sekadar Kursi di Meja, Indonesia Harus Berani Menentukan Arah