Pasar Ular Sepi Pembeli, Tanda Pergeseran Besar Ekonomi Ritel Jakarta


SUARA NEGERI ■ JAKARTA — Sepinya Pasar Ular mencerminkan perubahan besar pola belanja masyarakat. Tekanan dari platform seperti Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop serta melemahnya daya beli membuat pedagang kian terpuruk.


Seorang pedagang di Pasar Ular, Asep baedah, membenarkan ihwal itu. Malah Ia mengakui hampir tiap hari tidak ada pelaris karena kondisi pasar sangat sepi.

"Kondisi pasar sepi pak, tidak seperti dulu. Ibaratnya, mau cari penglaris saja saat ini sulit," kata Asep saat ditemui SuaraNegeri.co.id Kamis (17/4) kemarin.

Berdasarkan pantauan media ini, aktivitas jual beli di Pasar Ular kian lesu dalam beberapa tahun terakhir. 

Tampak deretan kios yang dulu padat pengunjung kini tampak lengang, bahkan sebagian telah tutup permanen. Kondisi ini bukan sekadar fenomena lokal, melainkan cerminan perubahan besar dalam lanskap ritel perkotaan.

Sejumlah pedagang mengaku penurunan omzet terjadi drastis sejak pandemi COVID-19. Namun, tekanan terbesar justru datang setelahnya, ketika pola konsumsi masyarakat berubah secara permanen.

Umi Khalsum, pedagang Grosir di Jakarta Utara menyebut perkembangan pesat platform digital seperti Shopee, Tokopedia, hingga TikTok Shop telah menggeser preferensi konsumen. Kemudahan akses, harga kompetitif, serta promosi agresif membuat masyarakat tidak lagi bergantung pada pasar fisik.

"Sekarang orang lebih pilih belanja dari rumah," kata dia.

Perubahan ini menempatkan pasar tradisional dalam posisi sulit, terutama yang belum terintegrasi dengan sistem digital.

Selain faktor digitalisasi, pelemahan daya beli masyarakat turut memperparah kondisi. Kenaikan harga kebutuhan pokok dan ketidakpastian ekonomi membuat konsumen lebih selektif dalam berbelanja.

Akibatnya, transaksi di pasar menurun signifikan. Pedagang yang sebelumnya mampu meraih omzet jutaan rupiah per hari, kini hanya mencatat penjualan dalam skala yang jauh lebih kecil.


Efek Domino Penutupan Kios

Sepinya pembeli memicu efek berantai. Banyak pedagang memilih menutup kios karena tidak lagi mampu menutup biaya operasional. Penutupan ini justru mempercepat penurunan jumlah pengunjung, karena pilihan barang semakin terbatas.

Fenomena ini menciptakan lingkaran negatif, semakin sepi pembeli, semakin banyak kios tutup dan sebaliknya.

Di tengah perubahan ini, kemampuan adaptasi menjadi kunci. Namun tidak semua pedagang mampu beralih ke penjualan online. Keterbatasan literasi digital, modal, hingga usia menjadi hambatan utama.

Padahal, model bisnis ritel saat ini menuntut integrasi antara offline dan online. Tanpa itu, pasar tradisional berisiko semakin tertinggal.


Perlu Intervensi dan Inovasi

Pengamat menilai revitalisasi pasar tidak cukup hanya dengan perbaikan fisik. Diperlukan pendekatan baru, seperti digitalisasi pedagang, penguatan identitas pasar, hingga penyelenggaraan event untuk menarik kembali pengunjung.

Jika tidak, pasar seperti Pasar Ular berpotensi kehilangan relevansinya di tengah persaingan ritel modern. (Heri/Gusti)

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  •  Pasar Ular Sepi Pembeli, Tanda Pergeseran Besar Ekonomi Ritel Jakarta
  •  Pasar Ular Sepi Pembeli, Tanda Pergeseran Besar Ekonomi Ritel Jakarta
  •  Pasar Ular Sepi Pembeli, Tanda Pergeseran Besar Ekonomi Ritel Jakarta
  •  Pasar Ular Sepi Pembeli, Tanda Pergeseran Besar Ekonomi Ritel Jakarta
  •  Pasar Ular Sepi Pembeli, Tanda Pergeseran Besar Ekonomi Ritel Jakarta
  •  Pasar Ular Sepi Pembeli, Tanda Pergeseran Besar Ekonomi Ritel Jakarta