Bagaimana Mengolah Rilis Menjadi Sebuah Berita Agar Berisi Dan Terasa Lebih "Nendang"?
Saat menerima rilis berita dari humas atau instansi tertentu, banyak rekan media lokal langsung copy paste tanpa ditelaah lebih mendalam. Itu sebabnya banyak yang kemudian menjadi "sampah algoritma" yang enggan di indeks google.
Kalau anda seorang redaktur, perlu perhatikan dampak tersebut, saya tidak akan mengangkatnya sekadar sebagai berita "penandatanganan kerja sama" atau acara seremonial belaka. Itu terlalu birokratis dan kurang menarik bagi pembaca.
Ada beberapa sudut pandang yang lebih kuat:
1. Sudut ini yang paling dekat dengan pembaca.
Misal, Angle berita: Kerja sama Huawei dan Polteknaker membuka peluang magang, pelatihan, hingga rekrutmen langsung bagi mahasiswa.
Judul: Polteknaker Gandeng Huawei, Mahasiswa Berpeluang Magang hingga Campus Hiring/ atau kita angkat judul: / Dari Kampus ke Industri, Huawei Siapkan Jalur Karier bagi Mahasiswa Polteknaker
2. Sudut "Menjawab Tantangan SDM Digital Indonesia"
Ini lebih strategis dan bernilai nasional.
Misalnya, Angle berita: Indonesia membutuhkan talenta digital, sementara industri berkembang lebih cepat dibanding kampus. Kerja sama ini menjadi solusi.
Seperti, Judul: Kemnaker dan Huawei Bersinergi Cetak Talenta Digital Indonesia atau : Hadapi Era Digital, Polteknaker-Huawei Perkuat Kompetensi SDM Masa Depan
Kemnaker Gandeng Huawei untuk Menyiapkan SDM Berdaya Saing Global
3. Sudut "Kampus Tidak Lagi Hanya Teori"
Ini angle yang cukup tajam. Angle berita: Pendidikan vokasi harus keluar dari ruang kelas dan langsung terhubung dengan kebutuhan industri.
Kalimat Cris yang sangat kuat adalah: "Ilmu yang diajarkan tidak boleh berhenti di ruang kelas."
Ini bisa dijadikan lead utama.
Judul SEO yang cukup kuat: "Kemnaker Gandeng Huawei, Mahasiswa Polteknaker Berpeluang Magang hingga Campus Hiring"
Alternatif lebih nasional:
Kemnaker-Huawei Bersinergi Cetak Talenta Digital, Buka Peluang Magang dan Kerja bagi Mahasiswa
Karena di dalamnya ada tiga kata kunci yang kuat sekaligus: Kemnaker, Huawei dan Magang/Kerja
Itu biasanya lebih menarik klik dibanding judul yang hanya berisi "penandatanganan kerja sama".
Sebenarnya itu karena saya mencoba melihat berita dari sudut pandang pembaca, bukan dari sudut pandang penyelenggara acara.
Sering kali narasumber atau instansi merasa inti beritanya adalah:
"Kami telah menandatangani kerja sama."
Padahal bagi pembaca, itu belum tentu menarik. Yang mereka pikirkan adalah:
"Apa dampaknya buat saya?"
"Apakah ada peluang kerja?"
"Apakah ada manfaat bagi mahasiswa?"
"Apakah ini bisa mengurangi pengangguran?"
"Apa yang berubah setelah kerja sama ini?"
Makanya dalam berita seperti ini, saya biasanya mencari tiga hal:
1. Dampaknya
Bukan "MoU ditandatangani", tetapi: Mahasiswa mendapat akses magang, pelatihan, dan rekrutmen kerja.
2. Konflik atau masalah yang ingin diselesaikan
Misalnya: Dunia industri kekurangan talenta digital, sementara lulusan sering tidak sesuai kebutuhan pasar.
Nah, kerja sama Huawei–Polteknaker menjadi jawabannya.
3. Nilai berita yang lebih besar
Misalnya: Indonesia sedang berlomba menyiapkan SDM digital untuk bersaing di tingkat global.
Jadi berita tidak lagi sekadar kegiatan seremonial.
Ketika saya menjadi editor, saya sering memakai rumus sederhana:
"Jangan tulis apa yang dilakukan instansi, tulis mengapa masyarakat harus peduli."
Contohnya:
❌ Kurang menarik:
Kemnaker dan Huawei Teken Perjanjian Kerja Sama
✅ Lebih menarik:
Kemnaker Gandeng Huawei, Mahasiswa Polteknaker Berpeluang Magang dan Direkrut Industri
Karena pembaca langsung menangkap manfaatnya dalam 3 detik pertama.
Dari beberapa berita yang pernah kita bahas sebelumnya, saya lihat insting rekan-rekan sebenarnya sudah bagus. Yang sering terjadi hanya masih terlalu mengikuti alur rilis resmi pemerintah atau lembaga.
Padahal kalau sedikit "dipelintir" ke sisi dampak, konflik, atau manfaat publik, beritanya langsung terasa lebih hidup dan punya nilai klik yang lebih tinggi tanpa harus menjadi sensasional.
Itu juga sebabnya banyak media besar sering mengambil satu kutipan paling kuat dari narasumber, lalu menjadikannya angle utama, bukan menjadikan acara atau seremoni sebagai fokus utama. Misalnya pada rilis ini, kutipan:
"Ilmu yang diajarkan tidak boleh berhenti di ruang kelas."
Justru lebih bernyawa daripada kalimat:
"Telah dilakukan penandatanganan perjanjian kerja sama."
Nah, kalimat pertama bisa menjadi headline, sedangkan kalimat kedua cukup menjadi isi berita. Itu yang membuat sebuah berita terasa lebih "nendang".
Angle Berita
Dari beberapa kali kita diskusi soal judul dan angle berita, saya melihat satu kelebihan yang sudah rekan rekan miliki. Bro tidak sekadar menyalin rilis, tetapi selalu berpikir bagaimana mengubahnya menjadi berita yang layak dibaca. Itu sebenarnya sudah setengah jalan menjadi editor.
Kalau boleh berbagi satu trik yang sering dipakai redaktur senior, setiap menerima rilis coba tanyakan tiga pertanyaan ini:
Apa yang baru?
Apa fakta paling penting yang belum diketahui publik?
Siapa yang terdampak?
Mahasiswa, pekerja, UMKM, masyarakat umum, pengusaha, atau pemerintah?
Mengapa pembaca harus peduli?
Ada peluang kerja?
Ada perubahan kebijakan?
Ada ancaman?
Ada manfaat ekonomi?
Kalau ketiga pertanyaan itu terjawab, biasanya angle berita langsung muncul dengan sendirinya.
Contohnya pada berita Huawei Polteknaker:
Apa yang baru? → Kerja sama pendidikan dan pengembangan SDM.
Siapa yang terdampak? Mahasiswa dan calon tenaga kerja.
Mengapa harus peduli? Ada peluang magang, pelatihan, dan rekrutmen industri.
Maka angle yang muncul bukan lagi "penandatanganan kerja sama", tetapi "peluang karier dan peningkatan kompetensi SDM."
Saya juga melihat media yang rekan-rekan kelola cukup sering mengangkat isu ketenagakerjaan, pendidikan vokasi, UMKM, dan kebijakan publik. Untuk tema-tema seperti itu, angle yang paling kuat biasanya:
Di dalamnya, terdapat Dampak ke masyarakat. Peluang ekonomi atau lapangan kerja. Konflik atau tantangan yang sedang dihadapi. Solusi yang ditawarkan pemerintah atau lembaga.
Kalau ke depan nanti dapat rilis-rilis pemerintah yang terasa "kering" atau terlalu seremonial, Kita akan bedah bersama dan cari angle yang paling berpotensi jadi headline kuat. Kadang satu rilis bisa melahirkan 3–5 angle berita berbeda tergantung target pembacanya.
Oke, Semangat terus, Bro. Jurnalisme yang baik bukan hanya menyampaikan apa yang terjadi, tetapi membantu pembaca memahami mengapa peristiwa itu penting bagi hidup mereka.
Selamat berkarya dan tetap semangat menulis ✍️
Artikel ini dikutip dari:
Kelas Jurnalistik Digital Angkatan Pertama (AJDI) Akademi Jurnalistik Digital Indonesia, Tanggal 24/6/2026.
Dosen/Mentor: RM Gusti Haes dan Rasyid Munandar

