Dolar Naik, Mall Tetap Ramai dan Jalanan Macet, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Oleh : Rasyid Munandar *) Penulis, Pemimpin Umum Harian Suara Negeri.
Di tengah kabar pelemahan rupiah dan ketidakpastian global, pusat perbelanjaan tetap dipadati pengunjung. Apakah ini tanda daya beli masyarakat masih kuat, atau justru cerminan perubahan perilaku konsumsi masyarakat Indonesia?
Menurut saya, fenomena ini justru menarik, karena sering memicu perdebatan di ruang publik. Ada yang melihat kurs dolar dan langsung menyimpulkan ekonomi sedang bermasalah. Ada juga yang melihat mall penuh, konser ramai, dan jalanan macet lalu menyimpulkan ekonomi baik-baik saja.
Kalau melihat fenomena "dolar naik, mal tetap ramai, jalanan tetap macet", ada beberapa kemungkinan yang bisa menjelaskan kondisi tersebut.
1. Ekonomi Tidak Bisa Diukur Hanya dari Kurs Dolar
Kenaikan dolar terhadap rupiah memang penting, tetapi dampaknya tidak langsung dirasakan seluruh masyarakat. Yang paling cepat terdampak biasanya adalah para Importir, Industri yang bergantung pada bahan baku impor dan pelaku usaha dengan utang dolar.
Sementara sebagian besar masyarakat tetap menerima gaji dalam rupiah dan menjalani aktivitas normal. Karena itu, mall tetap ramai meski kurs sedang bergejolak.
2. Konsumsi Masih Menjadi Mesin Utama Ekonomi
Ekonomi Indonesia selama ini ditopang oleh konsumsi domestik. Ketika masyarakat masih memiliki pendapatan dan akses kredit, aktivitas belanja cenderung tetap berjalan.
Bahkan ada fenomena menarik, Orang mengurangi tabungan. Orang tetap berbelanja menggunakan paylater atau kartu kredit. Gaya hidup tetap dipertahankan meski kondisi ekonomi mulai menekan.
Akibatnya, pusat perbelanjaan terlihat ramai meski daya beli sebenarnya belum tentu sedang meningkat.
3. Kemacetan Tidak Selalu Menandakan Ekonomi Kuat
Jalanan macet sering dianggap indikator ekonomi bagus karena menunjukkan mobilitas tinggi.
Namun bisa juga karena, pertumbuhan kendaraan lebih cepat dari pada pembangunan jalan. Transportasi publik belum optimal dan Urbanisasi tinggi. Jadi, jalanan macet bukan selalu berarti masyarakat sedang makmur.
4. Ada Kesenjangan yang Tidak Terlihat
Salah satu kemungkinan terbesar adalah adanya perbedaan kondisi antar kelompok masyarakat.
Di kota-kota besar, Kelas menengah atas masih kuat berbelanja. Sektor jasa, digital, dan keuangan masih bergerak.
Sementara di daerah tertentu, Daya beli mulai melemah. PHK terjadi di beberapa industri dan UMKM menghadapi tekanan biaya.
Karena itu, mall terlihat penuh, tetapi belum tentu mencerminkan kondisi seluruh rakyat Indonesia.
5. Efek Psikologis Pasca Pandemi
Sejak pandemi berakhir, banyak masyarakat lebih memilih menikmati uang untuk pengalaman dan hiburan.
Fenomena yang sering disebut ekonom sebagai, "revenge spending" atau konsumsi untuk menikmati hidup setelah periode pembatasan.
Akibatnya, Kafe ramai, Konser penuh, Wisata padat dan Mall ramai. Meski pada saat yang sama banyak orang mengeluhkan harga kebutuhan yang naik.
6. Pertanda yang Perlu Diwaspadai
Kalau dolar terus naik dalam jangka panjang, dampaknya biasanya baru terasa beberapa bulan kemudian. Seperti Harga barang impor naik. Biaya produksi meningkat, Inflasi bertambah dan daya beli masyarakat mulai tergerus.
Jadi yang perlu dilihat bukan hanya kondisi hari ini, tetapi apakah keramaian itu masih bertahan enam bulan hingga satu tahun ke depan.
Dari analisa tadi, maka dapat kita sebutkan bahwa fenomena dolar naik, mall ramai dan jalanan macet tidak otomatis berarti ekonomi sangat kuat atau sangat lemah.
Yang mungkin terjadi adalah, Sebagian masyarakat masih memiliki kemampuan belanja. Konsumsi domestik masih menjadi penopang ekonomi. Dampak pelemahan rupiah belum sepenuhnya terasa.
Selain itu, ada kesenjangan antara kondisi kelas menengah atas dan kelompok yang lebih rentan.
Kalau saya melihat dari sudut pandang jurnalistik, fenomena ini menarik dijadikan laporan mendalam dengan pertanyaan: "Benarkah ekonomi sedang sulit, atau sebenarnya Indonesia sedang mengalami pergeseran pola konsumsi masyarakat?"
Pertanyaan itu bisa menjadi pintu masuk untuk menggali data, mewawancarai ekonom, pelaku usaha, hingga pengunjung mall, sehingga hasilnya lebih kaya daripada sekadar melihat angka kurs dolar. (*)

