Saat Utang Tak Lagi Mudah Didapat, Seberapa Kuat Daya Beli Masyarakat Bertahan?


Catatan Redaksi: Rasyid Munandar

Nilai tukar rupiah yang terus berada di bawah tekanan dinilai mulai berdampak pada kehidupan masyarakat. Di tengah kenaikan biaya hidup dan melemahnya daya beli, sebagian warga kini mengaku semakin kesulitan memperoleh pinjaman dari perbankan maupun lembaga pembiayaan karena persyaratan yang semakin ketat.

Seorang pengamat menyebutkan hal lain kepada penulis. Ktanya, pelemahan rupiah tidak hanya menjadi persoalan di pasar keuangan, tetapi juga mulai dirasakan masyarakat di tingkat bawah. Sejumlah warga mengeluhkan akses terhadap kredit dan pinjaman yang semakin sulit, sementara kebutuhan ekonomi sehari-hari terus meningkat di tengah ketidakpastian ekonomi.

"Rupiah yang terus melemah memunculkan kekhawatiran baru di kalangan masyarakat. Selain menghadapi kenaikan harga sejumlah kebutuhan, banyak warga kini mengaku kesulitan mendapatkan pinjaman karena lembaga keuangan dinilai semakin selektif dalam menyalurkan kredit," kata dia.

Dalam analisanya, tidak selalu pelemahan rupiah otomatis membuat masyarakat sulit berutang. Namun keduanya bisa saling berkaitan. Saat ekonomi melambat, daya beli turun, dan risiko kredit meningkat, bank maupun lembaga keuangan cenderung memperketat penyaluran pinjaman. 

"Akibatnya masyarakat yang sebelumnya mudah mendapat kredit menjadi lebih sulit memperoleh pembiayaan," ujarnya.

Yang perlu dicermati saat ini, adalah:

Apakah ada penurunan penyaluran kredit?

Apakah pengajuan pinjaman ditolak lebih banyak?

Apakah fintech atau bank memperketat syarat kredit?

Bagaimana data dari Bank Indonesia atau Otoritas Jasa Keuangan?

Terlepas dari pertanyaan tadi, saya melihat ada keresahan yang cukup nyata di masyarakat. Banyak orang mengeluhkan biaya hidup meningkat sementara akses pembiayaan tidak semudah beberapa tahun lalu. 

Tetapi untuk menyimpulkan bahwa "rakyat sekarang cari utang pun susah" perlu data pendukung agar menjadi argumen yang kuat dan tidak hanya berdasarkan persepsi.

Saya melihat laporan seperti itu menarik untuk dicermati. Tetapi perlu berhati-hati membedakan antara "masyarakat sulit mendapatkan pinjaman" dan "masyarakat sudah terlalu banyak berutang, sehingga tidak lagi memenuhi syarat pinjaman."

Menyimak indikator laporan media saat ini, adalah fenomena masyarakat semakin sulit memperoleh kredit, ada beberapa kemungkinan penyebab:

Banyak rumah tangga sudah memiliki cicilan dari berbagai sumber, mulai dari bank, koperasi, hingga pinjaman online.

Rasio utang terhadap pendapatan meningkat sehingga pengajuan kredit baru ditolak.

Perbankan dan lembaga pembiayaan memperketat analisis risiko karena khawatir kredit macet meningkat.

Pertumbuhan ekonomi dan pendapatan masyarakat tidak secepat pertumbuhan kebutuhan hidup.

Yang menurut saya lebih menarik justru pertanyaan besarnya:

Apakah rakyat kesulitan mencari utang karena ekonomi sedang sulit, atau ekonomi terlihat masih bergerak karena rakyat hidup dari utang?

Ini dua hal yang sangat berbeda.

Kalau kita lihat fenomena di lapangan, mal ramai, jalan macet, konser penuh, tempat wisata padat. Namun di sisi lain banyak masyarakat mengeluh pendapatan tidak naik signifikan. Kondisi seperti ini sering membuat ekonom bertanya: konsumsi yang terjadi berasal dari kenaikan pendapatan atau dari ekspansi kredit?

Pasalnya, jika akses kredit mulai mengetat, maka kemampuan masyarakat untuk mempertahankan pola konsumsi juga bisa ikut tertekan. Itulah mengapa sebagian analis melihat kondisi kredit sebagai indikator yang penting untuk membaca kesehatan ekonomi riil.

Pertanyaan tersebut menarik karena menyentuh kontradiksi yang sering kita lihat sehari-hari, indikator konsumsi terlihat hidup, tetapi banyak warga mengaku kondisi keuangannya justru semakin sempit.

Untuk mengetahui tingkat kesejahteraan, kita perlu melihat indikator lain seperti:

Pertumbuhan pendapatan riil masyarakat.

Tingkat tabungan rumah tangga.

Besarnya utang rumah tangga.

Kemampuan membayar cicilan.

Jumlah kredit bermasalah (NPL).

Tingkat PHK dan penciptaan lapangan kerja.

Kadang-kadang sebuah ekonomi terlihat bergairah di permukaan, tetapi di bawahnya banyak rumah tangga yang sebenarnya sedang bertahan dengan cara mengurangi tabungan, menjual aset, atau menambah utang.

Sebaliknya, ada juga masa ketika masyarakat terlihat lebih hemat, tetapi kondisi keuangan mereka justru lebih sehat karena tidak bergantung pada pinjaman.

Sebagai wartawan, saya kira insting ini "menggelikan". Sering kali berita terbesar bukan yang tampak di permukaan, melainkan kontradiksi di baliknya.

Misalnya, pertanyaan seperti:

"Mengapa mal tetap ramai ketika banyak warga mengeluh ekonomi sulit?" atau "Jika konsumsi masih tinggi, mengapa masyarakat semakin kesulitan memperoleh kredit?"

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu bisa menjadi pintu masuk untuk liputan yang lebih mendalam dan bernilai bagi pembaca. (*)

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Saat Utang Tak Lagi Mudah Didapat, Seberapa Kuat Daya Beli Masyarakat Bertahan?
  • Saat Utang Tak Lagi Mudah Didapat, Seberapa Kuat Daya Beli Masyarakat Bertahan?
  • Saat Utang Tak Lagi Mudah Didapat, Seberapa Kuat Daya Beli Masyarakat Bertahan?
  • Saat Utang Tak Lagi Mudah Didapat, Seberapa Kuat Daya Beli Masyarakat Bertahan?
  • Saat Utang Tak Lagi Mudah Didapat, Seberapa Kuat Daya Beli Masyarakat Bertahan?
  • Saat Utang Tak Lagi Mudah Didapat, Seberapa Kuat Daya Beli Masyarakat Bertahan?