Ciri Media yang Mengejar Sensasi atau Klik
SUARA NEGERI ■ JAKARTA — Di era digital, kecepatan menyebarkan informasi menjadi kebutuhan. Namun, kecepatan tidak boleh mengorbankan akurasi. Di tengah persaingan memperebutkan perhatian pembaca, muncul praktik yang dikenal sebagai clickbait, yaitu penyajian berita yang lebih mengutamakan sensasi dan jumlah klik daripada kualitas informasi.
Masyarakat perlu memahami ciri-ciri media yang mengejar sensasi agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan.
Pertama, judul dibuat bombastis tetapi tidak mencerminkan isi berita. Judul sengaja disusun untuk memancing emosi, rasa penasaran, atau kemarahan pembaca. Setelah dibuka, isi beritanya sering kali tidak sebanding dengan judul yang ditampilkan.
Kedua, opini dicampur dengan fakta. Media yang tidak profesional sering menyajikan penilaian atau kesimpulan wartawan seolah-olah merupakan fakta. Padahal, tugas media adalah menyampaikan fakta yang dapat diverifikasi dan memberi ruang bagi narasumber untuk menyampaikan pandangannya.
Ketiga, hanya menghadirkan satu sisi. Berita yang baik berusaha memperoleh tanggapan dari semua pihak yang terkait. Jika belum berhasil, media menjelaskan bahwa pihak tersebut belum memberikan respons. Mengabaikan prinsip keberimbangan dapat menyesatkan pembaca.
Keempat, menggunakan bahasa yang menghakimi. Kata-kata seperti "pasti bersalah", "terbukti berbohong", atau "dalang utama" sering digunakan sebelum ada putusan hukum atau bukti yang memadai. Bahasa seperti ini dapat membentuk opini publik secara tidak adil.
Kelima, mengutip pernyataan tanpa konteks. Potongan ucapan narasumber yang dipublikasikan tanpa penjelasan utuh dapat mengubah makna dan menimbulkan kesalahpahaman.
Keenam, mengabaikan verifikasi. Informasi dari media sosial, pesan berantai, atau unggahan pribadi langsung dijadikan berita tanpa pemeriksaan yang memadai. Praktik ini berisiko menyebarkan hoaks dan disinformasi.
Sebaliknya, media yang menjalankan fungsi jurnalistik secara profesional memiliki karakter yang berbeda. Mereka mengutamakan akurasi, melakukan verifikasi, memisahkan fakta dari opini, memberikan ruang bagi semua pihak untuk menyampaikan penjelasan, serta bersedia mengoreksi kesalahan apabila ditemukan kekeliruan.
Dalam dunia jurnalistik berlaku prinsip yang sederhana namun penting: lebih baik terlambat beberapa menit daripada salah selama bertahun-tahun. Kepercayaan publik tidak dibangun melalui judul yang sensasional, melainkan melalui konsistensi menyajikan informasi yang akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat juga memiliki peran penting sebagai pembaca yang kritis. Jangan hanya membaca judul. Bacalah isi berita secara utuh, periksa sumbernya, bandingkan dengan media lain yang kredibel, dan jangan terburu-buru membagikan informasi yang belum terverifikasi.
Pada akhirnya, kualitas pers tidak ditentukan oleh banyaknya klik, melainkan oleh tingkat kepercayaan publik. Klik dapat diperoleh dalam hitungan detik, tetapi kredibilitas hanya dapat dibangun melalui kerja jurnalistik yang jujur, independen, dan berpegang teguh pada etika. (Rasyid Munandar)
