Dari Relawan ke Loyalis: Membaca Konsolidasi Pendukung Gibran di Era Digital
Oleh: RM Gusti Haes * Penulis adalah Wartawan Senior dan Pendiri PERWARI (Persatuan Wartawan dan Media NKRI)
Politik Indonesia selalu melahirkan fenomena menarik setelah sebuah kontestasi usai. Salah satunya adalah bagaimana relawan yang semula dibentuk untuk memenangkan kandidat tertentu tidak selalu bubar setelah pemilu berakhir. Sebaliknya, sebagian justru berkembang menjadi komunitas yang terus aktif membela, mempromosikan, bahkan mempertahankan citra tokoh yang mereka dukung.
Fenomena itu tampak pada sebagian pendukung Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Selama Pilpres 2024, relawan memiliki fungsi yang jelas: memenangkan pasangan calon. Namun, setelah pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka memenangi pemilu, aktivitas sebagian simpul relawan tidak berhenti. Di media sosial, mereka tetap aktif merespons kritik, menyebarkan informasi mengenai program pemerintah, hingga membangun narasi tandingan terhadap berbagai isu yang dianggap merugikan Gibran.
Perubahan inilah yang menarik untuk dibaca. Relawan pada dasarnya adalah organisasi yang lahir karena momentum politik. Loyalis berbeda. Loyalitas lebih bersifat jangka panjang karena dibangun oleh ikatan emosional, identitas politik, atau keyakinan bahwa tokoh yang didukung mewakili harapan tertentu.
Perubahan tersebut tentu tidak dapat digeneralisasi kepada seluruh pendukung Gibran. Banyak pemilih yang bersikap biasa saja setelah pemilu selesai. Namun, di ruang digital, kelompok yang paling aktif sering kali menjadi wajah yang paling terlihat. Akibatnya, persepsi publik mengenai kekuatan sebuah basis pendukung sering dibentuk oleh mereka yang paling vokal, bukan oleh mayoritas yang cenderung diam.
Media sosial memainkan peran besar dalam proses ini. Algoritma platform digital memberi ruang lebih luas bagi konten yang memancing interaksi tinggi. Ketika sebuah kritik muncul, respons cepat dari para pendukung akan menghasilkan percakapan yang lebih luas. Sebaliknya, dukungan terhadap Gibran juga memancing respons dari kelompok yang berseberangan. Interaksi semacam itu memperkuat polarisasi sekaligus menciptakan kesan bahwa kedua kubu terus berhadapan, bahkan setelah pemilu usai.
Faktor lain adalah kesinambungan jaringan relawan yang telah terbentuk sejak era Presiden Joko Widodo. Sebagian organisasi pendukung tidak dibangun dari nol ketika Gibran maju sebagai calon wakil presiden. Mereka telah memiliki pengalaman organisasi, jaringan komunikasi, dan infrastruktur digital yang memudahkan konsolidasi. Dengan modal tersebut, mobilisasi dukungan menjadi lebih cepat dibandingkan jika harus membangun basis baru.
Di sisi lain, Gibran juga menghadapi sorotan yang relatif lebih besar dibandingkan banyak wakil presiden sebelumnya. Polemik pencalonan, isu dinasti politik, hingga ekspektasi publik terhadap kepemimpinannya membuat namanya hampir selalu hadir dalam ruang diskusi nasional. Dalam situasi seperti ini, pendukung yang memiliki kedekatan emosional cenderung merasa perlu memberikan pembelaan ketika tokoh yang mereka dukung menjadi sasaran kritik.
Namun, ada pelajaran yang lebih penting daripada sekadar melihat kuat atau lemahnya basis pendukung. Demokrasi membutuhkan pendukung yang kritis, bukan sekadar setia. Loyalitas politik menjadi sehat apabila tetap memberi ruang bagi kritik, evaluasi, dan koreksi terhadap kebijakan pemerintah. Sebaliknya, kritik juga akan lebih bermakna apabila disampaikan berdasarkan data dan argumentasi, bukan sekadar sentimen politik.
Fenomena konsolidasi pendukung Gibran sesungguhnya mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam politik Indonesia. Kampanye tidak lagi berhenti ketika pemungutan suara selesai. Di era digital, kontestasi berlanjut setiap hari melalui percakapan di media sosial, kanal video, grup percakapan, hingga ruang-ruang diskusi daring. Yang diperebutkan bukan lagi hanya suara pemilih, tetapi juga persepsi publik.
Karena itu, pertanyaan yang layak diajukan bukanlah apakah pendukung Gibran semakin militan atau tidak. Pertanyaan yang lebih relevan adalah bagaimana demokrasi Indonesia akan berkembang ketika relawan politik berubah menjadi komunitas yang terus aktif memengaruhi opini publik. Jawaban atas pertanyaan itulah yang akan menentukan apakah ruang digital menjadi arena dialog yang sehat atau justru memperdalam polarisasi masyarakat.(*)
