Harga BBM Avtur Pertamina Resmi Naik, Apa Dampaknya ke Publik?
JAKARTA — PT Pertamina Patra Niaga kembali menyesuaikan harga bahan bakar pesawat atau avtur mulai 1 September 2026. Kenaikan terjadi di sebagian besar bandara utama Indonesia dan berpotensi menambah tekanan terhadap biaya operasional maskapai serta harga tiket penerbangan.
Di Aviation Fuel Terminal (AFT) Soekarno-Hatta (CGK), misalnya, harga avtur naik menjadi Rp22.471 per liter pada September dari Rp21.102 per liter pada Agustus 2026.
Kenaikan juga terjadi di sejumlah bandara besar lainnya. Di Juanda, Surabaya, harga meningkat dari Rp21.825 menjadi Rp23.239 per liter, sedangkan di Sultan Hasanuddin, Makassar, naik dari Rp21.948 menjadi Rp23.373 per liter.
Sementara itu, harga avtur di Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali (DPS), berdasarkan daftar yang tersedia, tercatat Rp21.926 per liter pada Agustus dan September, sehingga tidak mengalami perubahan dalam periode tersebut.
Berikut harga avtur untuk penerbangan domestik pada periode 1-30 September 2026 dibandingkan dengan Agustus di 10 bandara tersibuk:
Apa Dampaknya bagi Publik?
Kenaikan harga avtur tidak serta-merta berarti harga tiket pesawat akan naik dengan persentase yang sama. Avtur memang merupakan komponen penting dalam biaya operasional maskapai, tetapi harga tiket juga dipengaruhi sejumlah komponen lain, termasuk biaya pesawat, awak, perawatan, bandara, pajak, serta tingkat keterisian penerbangan.
Namun, kenaikan biaya bahan bakar dapat memberikan tekanan terhadap struktur biaya maskapai. Perusahaan penerbangan memiliki beberapa pilihan, antara lain menyerap kenaikan melalui efisiensi, menyesuaikan biaya operasional, atau meneruskannya sebagian kepada penumpang melalui mekanisme tarif yang berlaku.
Dengan demikian, dampak paling langsung bagi masyarakat adalah potensi meningkatnya biaya perjalanan udara, terutama apabila kenaikan harga avtur berlangsung bersamaan dengan kenaikan komponen biaya penerbangan lainnya.
Bagi masyarakat di wilayah kepulauan dan daerah yang sangat bergantung pada transportasi udara, perubahan tersebut dapat memiliki dampak lebih besar. Tiket pesawat bukan hanya digunakan untuk perjalanan wisata, tetapi juga untuk keperluan bisnis, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, dan kunjungan keluarga.
Kenaikan biaya penerbangan juga berpotensi memengaruhi sektor pariwisata. Jika harga perjalanan meningkat, sebagian wisatawan dapat mengurangi frekuensi perjalanan atau memilih destinasi yang memiliki biaya transportasi lebih rendah.
Dampak lanjutan juga dapat muncul pada sektor usaha yang bergantung pada transportasi udara, terutama pengiriman barang bernilai tinggi, barang yang mudah rusak, atau komoditas yang membutuhkan waktu pengiriman cepat.
Meski demikian, kenaikan avtur tidak secara otomatis berarti harga seluruh barang dan jasa akan naik. Besarnya dampak akan bergantung pada seberapa besar biaya penerbangan berkontribusi terhadap struktur biaya masing-masing sektor.
Tekanan terhadap Harga Tiket
Bagi maskapai, kenaikan harga avtur menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam menentukan strategi tarif.
Jika biaya bahan bakar meningkat sementara maskapai mempertahankan harga tiket, margin keuntungan dapat tertekan. Sebaliknya, jika sebagian kenaikan diteruskan kepada konsumen, harga tiket berpotensi meningkat.
Karena itu, masyarakat perlu membedakan antara kenaikan harga avtur dan kenaikan harga tiket pesawat. Keduanya berkaitan, tetapi bukan berarti kenaikan avtur secara langsung menghasilkan kenaikan tiket dalam persentase yang sama.
Perubahan harga avtur juga perlu dilihat bersama kebijakan pemerintah mengenai komponen biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) serta batas tarif penerbangan domestik.
Bukan Sekadar Soal Harga BBM
Kenaikan harga avtur pada September 2026 pada akhirnya bukan hanya persoalan harga bahan bakar yang dibayar maskapai.
Bagi publik, persoalan yang lebih penting adalah bagaimana perubahan biaya tersebut diteruskan ke harga tiket dan seberapa besar pengaruhnya terhadap mobilitas masyarakat.
Jika maskapai mampu menyerap sebagian kenaikan melalui efisiensi, dampaknya terhadap penumpang dapat terbatas. Namun jika tekanan biaya berlangsung lebih lama, ruang bagi maskapai untuk mempertahankan tarif dapat semakin sempit.
Karena itu, perkembangan harga avtur perlu dipantau bersama pergerakan harga tiket dan kebijakan fuel surcharge dalam beberapa pekan mendatang.
Bagi masyarakat, pertanyaan utamanya bukan hanya berapa harga avtur setelah naik, tetapi seberapa besar kenaikan tersebut akhirnya masuk ke dalam harga tiket pesawat.(gus)




