Mengapa Tidur Hanya 4 Jam Justru Terasa Lebih Segar?

Oleh | dr. Firdha Ayuningsih

Ada pengalaman yang mungkin pernah dialami banyak orang: tidur hanya sekitar empat jam, tetapi ketika bangun tubuh justru terasa lebih ringan, pikiran terasa lebih jernih dan semangat beraktivitas muncul lebih cepat.

Sebaliknya, setelah tidur tujuh atau delapan jam, seseorang kadang bangun dengan tubuh terasa berat, kepala kurang nyaman dan masih ingin kembali ke tempat tidur.

Lantas, apakah itu berarti tidur empat jam justru lebih baik?

Belum tentu.

Rasa segar setelah tidur singkat memang bisa terjadi. Namun, sensasi tubuh ketika bangun tidak selalu menggambarkan secara lengkap apakah otak dan tubuh sudah memperoleh pemulihan yang cukup.

Terbangun pada waktu yang berbeda bisa membuat tubuh terasa berbeda

Salah satu penjelasannya adalah sleep inertia, yaitu kondisi sementara ketika seseorang belum sepenuhnya "online" setelah bangun tidur.

Perasaan berat, mengantuk atau kurang fokus setelah bangun dapat dipengaruhi oleh fase tidur ketika seseorang terbangun. Karena itu, durasi tidur yang lebih panjang tidak otomatis membuat pengalaman bangun selalu terasa lebih menyenangkan.

Sebaliknya, seseorang yang kebetulan terbangun ketika berada pada fase tidur yang lebih ringan dapat merasa lebih segar meskipun total tidurnya lebih pendek.

Dengan kata lain, empat jam tidur yang terasa nyaman tidak otomatis berarti empat jam sudah cukup bagi tubuh.

Ada "jam biologis" yang ikut bekerja

Tubuh manusia tidak hanya bekerja berdasarkan jumlah jam tidur. Ada sistem waktu biologis atau ritme sirkadian yang ikut menentukan kapan seseorang merasa mengantuk dan kapan tubuh menjadi lebih waspada.

Itulah sebabnya seseorang yang bangun pada waktu tertentu dapat merasa sangat segar meskipun malam sebelumnya tidurnya relatif singkat.

Pada pagi hari, sistem biologis tubuh memang mulai mengarahkan manusia menuju kondisi terjaga. Akibatnya, rasa kantuk dapat berkurang dan tubuh terasa lebih siap beraktivitas.

Namun, kondisi tersebut jangan langsung diterjemahkan sebagai tanda bahwa kebutuhan tidur telah terpenuhi.

Yang terasa segar belum tentu bekerja maksimal

Di sinilah persoalan menjadi menarik.

Penelitian tentang pembatasan tidur menemukan adanya kesenjangan antara rasa waspada yang dirasakan seseorang dan kemampuan neurobehavioralnya. Seseorang dapat merasa cukup waspada, sementara performa dalam tugas yang membutuhkan perhatian dan kecepatan reaksi sebenarnya sudah mengalami penurunan.

Artinya, kita tidak selalu bisa menjadikan perasaan "saya baik-baik saja" sebagai satu-satunya ukuran apakah tubuh sudah mendapatkan tidur yang cukup.

Ini penting terutama bagi orang yang setelah tidur singkat harus mengemudi, bekerja dengan mesin, mengambil keputusan penting atau melakukan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi.

Mengapa tidur lebih lama kadang justru terasa lebih berat?

Ada kemungkinan seseorang terbangun ketika sedang berada pada bagian tidur yang lebih dalam. Kondisi itu dapat membuat proses transisi dari tidur menuju keadaan sadar terasa lebih berat.

Selain itu, kualitas tidur juga sangat menentukan.

Tidur delapan jam tetapi sering terbangun tentu berbeda dengan tidur yang relatif tenang dan tidak banyak mengalami gangguan.

Karena itu, durasi dan kualitas tidur harus dilihat bersama-sama.

Tetapi ini juga tidak berarti durasi tidur boleh diabaikan.

Empat jam bukan berarti kebutuhan tubuh hanya empat jam

Untuk orang dewasa, rekomendasi umum adalah setidaknya tujuh jam tidur setiap hari, sementara kebutuhan individu dapat berbeda menurut usia dan kondisi masing-masing.

Data CDC terbaru juga menunjukkan bahwa tidur kurang dari tujuh jam masih menjadi persoalan yang cukup umum pada orang dewasa.

Masalahnya bukan semata-mata bagaimana perasaan seseorang pada pagi hari.

Kekurangan tidur yang berlangsung terus-menerus dikaitkan dengan berbagai persoalan kesehatan, termasuk gangguan metabolisme, tekanan darah, penyakit jantung, stroke, obesitas dan masalah kesehatan mental. Kurang tidur juga dapat mengganggu konsentrasi, memori dan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari.

Karena itu, tidur empat jam dan kemudian merasa segar sekali-sekali adalah satu hal.

Menjadikan tidur empat jam sebagai kebiasaan adalah persoalan yang berbeda.

Jadi, apa sebenarnya yang terjadi?

Kemungkinan sederhananya begini:

Tubuh bisa merasa segar lebih cepat daripada tubuh benar-benar pulih sepenuhnya.

Rasa segar setelah bangun dipengaruhi oleh fase tidur, ritme biologis, kualitas tidur dan kondisi tubuh ketika terbangun.

Sementara itu, pemulihan tubuh dan otak merupakan proses yang lebih kompleks.

Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan hanya:

"Berapa jam saya tidur?"

Tetapi juga:

"Bagaimana kualitas tidur saya, bagaimana kondisi saya sepanjang hari, dan apakah pola tersebut berlangsung terus-menerus?"

Jika sesekali tidur empat jam lalu bangun dalam kondisi prima, tidak perlu langsung menganggap ada sesuatu yang salah.

Namun jika tidur empat jam menjadi kebiasaan dan seseorang merasa selalu baik-baik saja, justru di situlah perlu berhati-hati. Perasaan segar tidak selalu identik dengan pemulihan yang optimal.

Pada akhirnya, tubuh memang bisa memberikan sinyal bahwa kita siap bangun.

Tetapi tidur yang cukup adalah bagian dari proses lain: memberikan kesempatan kepada tubuh dan otak untuk melakukan pemulihan secara optimal.

Jadi, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa karena bangun setelah empat jam terasa segar, maka tubuh hanya membutuhkan empat jam tidur.

Kadang-kadang tubuh memberi kita rasa segar untuk memulai hari—sementara kebutuhan pemulihannya belum tentu selesai.

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Mengapa Tidur Hanya 4 Jam Justru Terasa Lebih Segar?
  • Mengapa Tidur Hanya 4 Jam Justru Terasa Lebih Segar?
  • Mengapa Tidur Hanya 4 Jam Justru Terasa Lebih Segar?
  • Mengapa Tidur Hanya 4 Jam Justru Terasa Lebih Segar?
  • Mengapa Tidur Hanya 4 Jam Justru Terasa Lebih Segar?
  • Mengapa Tidur Hanya 4 Jam Justru Terasa Lebih Segar?