Perkuat Kesiapsiagaan Bencana, BMKG Gelar Sekolah Lapang Gempabumi di Karanganyar
KARANGANYAR, Suara Negeri - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menggelar kegiatan Sekolah Lapang Gempabumi Kabupaten Karanganyar Tahun 2026 sebagai langkah konkret untuk memperkuat mitigasi dan peringatan dini bencana. Kegiatan yang mengusung tema Pahami Potensi dan Aksi Cepat Hadapi Gempabumi Menuju Indonesia Emas 2045 ini dilaksanakan di Aula Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Kepala BMKG , Prof. Ir. Teuki Faisal Fathanu, Ph.D menyatakan, Kabupaten Karanganyar sendiri merupakan salah satu wilayah di Jawa Tengah yang memiliki potensi bahaya gempa bumi cukup tinggi dan kompleks. Meskipun secara administratif wilayahnya tidak dilewati langsung oleh jalur sesar aktif utama di dalam batas daerahnya, risiko bencana gempabumi di Karanganyar sangat dipengaruhi oleh struktur sesar-sesar aktif darat yang mengelilinginya.
"Kenapa di Karanganyar ya karena memang ada potensi untuk gempa di sini, walaupun tidak dilalui oleh sesar utama. Tapi Karanganyar ini juga daerah yang rawan gempa dan juga kita tahu di selatan juga ada zona subduksi untuk Megathrust. Jadi untuk masyarakat ini memahami potensinya dan tahu apa yang harus dilakukan untuk mengantisipasi terkait gempa ini, " ujar Prof Teuki Faisal disela acara, Jumat (25/9).
Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Bumi Indonesia dari Pusat Studi Gempa Nasional tahun 2024, terdapat beberapa jalur sesar aktif darat terdekat yang berpotensi memengaruhi Karanganyar. Beberapa di antaranya adalah Sesar Naik Busur Belakang Jawa Segmen Sendangdelik dengan potensi magnitudo maksimum M7,1, Sesar Opak dengan M6,9, Sesar Dengkeng atau Mataram Fault sebesar M6,1 hingga M6,2, serta Sesar Purwodadi dan Semarang Front dengan potensi M6,8 hingga M6,9.
"Ada pula Sesar Kompleks Gunung Api dan Danau seperti
Merapi-Merbabu, Rawapening, dan Ungaran. Sementara itu, Zona Subduksi Megathrust Jawa di Samudra Hindia memiliki potensi magnitudo hingga M9,1, " bebernya.
Dikatakan lebih lanjut, sejarah mencatat wilayah Karanganyar telah berulang kali merasakan guncangan gempa sedang hingga kuat, seperti Gempa Yogyakarta 27 Mei 2006. Selain itu, terdapat rentetan gempa bumi dangkal di perairan selatan Jawa seperti gempa Bantul pada 27 Januari 2026 dan gempa Pacitan pada 6 Februari 2026.
Berdasarkan pemodelan skenario Peta Guncangan Gempa bumi dari BMKG, guncangan akibat Sesar Naik Sendangdelik maupun Megathrust Selatan Jawa diperkirakan dapat mencapai skala VI hingga VII MMI. Pada skala intensitas tersebut, masyarakat umumnya merasakan guncangan kuat, kesulitan berdiri, barang-barang rumah tangga terpelanting, serta berisiko menyebabkan kerusakan ringan hingga sedang pada bangunan yang tidak memenuhi standar tahan gempa.
"Secara geologis, karakter respon guncangan di Kabupaten Karanganyar terbagi menjadi dua. Wilayah sisi barat dan tengah seperti Colomadu, Jaten, Gondangrejo, dan Karanganyar Kota didominasi endapan aluvium dan tanah lunak yang bersifat memperbesar gelombang gempa serta berpotensi memicu likuifaksi. Untuk sisi timur di lereng Gunung Lawu seperti Tawangmangu, Ngargoyoso, Jenawi, dan Jatiyoso didominasi batuan gunung api kuarter. Meski batuan keras cenderung meredam guncangan, guncangan kuat di wilayah lereng terjal ini tetap berpotensi memicu bencana susulan berupa tanah longsor, " tandasnya.
Pelaksanaan Sekolah Lapang Gempabumi ini diikuti oleh berbagai pemangku kepentingan. Peserta yang hadir meliputi unsur BPBD, instansi Pemerintah Kabupaten Karanganyar, aparat kewilayahan kecamatan dan desa, komunitas relawan kebencanaan, tenaga pendidik, tokoh masyarakat, dunia usaha, hingga insan media.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan resmi, dilanjutkan paparan potensi bahaya gempabumi dan geologi di wilayah Karanganyar dan Jawa Tengah. Para peserta juga mendapatkan pengenalan Sistem Monitoring Seismik dan Sistem Peringatan Dini Gempabumi atau EEWS milik BMKG.
Selain itu, diberikan edukasi kesiapsiagaan, mitigasi, dan respon cepat penyelamatan diri, diskusi kelompok interaktif, simulasi Table Top Exercise, hingga penyusunan rekomendasi dan rencana aksi kesiapsiagaan sekolah serta masyarakat daerah. (hrs)

